Garis Semu | Maliah-Novel Inspiratif

Table of Contents
Maliah-Novel Inspiratif

Maliah tengah duduk bersama kedua buah hatinya. Sambil menatap Alisa gadis yang matanya selalu ceria, namun kini Alisa seolah kehilangan senyumnya yang indah. Alisa duduk disamping ibunya yang tengah memotong kuku Arya. Tatapan Alisa kosong tanpa arah tujuan yang pasti. Ia seperti kehilangan arah pembicaraan.

“ Ada, apa Nak?”. Tanya Maliah penuh penasaran

“Bu….Bu…. andai saja tak ada rencana pernikahanku saat itu, mungkin ayah masih ada disamping kita saat ini Bu.” Kalimat itu terucap dengan raut wajah penuh penyesalan darinya mata yang mulai berkaca-kaca.

“Nak, semua jalan ini sudah takdir yang harus kita jalani, jangan engkau terlarut dalam penyesalan yang demikian. Bapak tidak akan suka jika melihat engkau seperti ini.” Tegas Ibu Maliah dengan sigap menatap Alisa yang hancur.

Alisa tak berani membalas tatapan Ibunya. Ia saat ini masih terombang-ambing perasaan yang membuatnya lupa cara tersenyum. Kedekatan dan segala bentuk dukungan ayahnya kini tinggal kenangan saja. Harapannya untuk menikah tahun ini pun lenyap seolah ia tak ada semangat lagi.

Berhari-hari Alisa mengurung diri di kamarnya, Alisa menatap foto ayahnya yang tersimpan di dompetnya. Foto itu diambil saat mereka sekeluarga sedang berlibur di Pantai teluk penyu dekat dengan rumah kerabat Bu Maliah. Ayahnya tersenyum lebar, memeluk Arya yang masih kecil disampingnya Alisa yang masih SMP saat itu duduk berdampingan dengan Ibunya. Alisa merasakan air mata menggenang di matanya. Ia merindukan ayahnya yang selalu sabar, dan menyayanginya.

Keesokan harinya Alisa duduk sendiri di bawah pohon kelapa yang teduh, membiarkan air mata mengalir di pipinya. Hatinya terasa hancur karena kepergian mendadak ayahnya. Setiap kali dia melihat pohon kelapa itu, kenangan pahit itu terus menghantui. Dia merasa bersalah, seolah-olah kecelakaan tragis itu adalah kesalahannya sendiri.

Raut wajahnya yang dulu ceria kini terlukis penuh kesedihan yang dalam. Setiap hembusan angin membawa deru pilu yang menghembuskan kepedihan dalam relung jiwanya. Ayahnya, sosok yang selalu menjadi benteng kekuatan dan cahaya dalam kegelapan, kini telah pergi untuk selamanya.

Tetesan air mata mengalir deras tanpa henti, menandai kepedihan yang tak terlukiskan. Alisa merasakan sebuah beban berat menekan dadanya, seakan dunia ini menjadi hampa tanpa kehadiran sosok yang begitu dicintainya. Tiap detik terasa seperti abadi dalam kesendirian yang menyayat hati.

Namun, di tengah kepedihan yang membelenggu, Alisa merasakan seakan-akan ada paku tajam yang menusuk-nusuk hatinya. Ia terhempas dengan keras oleh rasa bersalah menghantui pikirannya. Bayang-bayang tragedi yang menimpa ayahnya, terjebak dalam kilatan ingatan menyakitkan. Baginya, kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ayahnya seolah menjadi bagian dari kutukan atas kesalahannya sendiri.

Kamis pagi dalam tatapan mentari yang cerah keluarga Hendra datang dengan segenap kabar yang akan mereka musyawarahkan bersama Bu Maliah dan Alisa. Udara yang kental dengan ketegangan menggelayuti ruangan, menyelimuti setiap anggota keluarga yang hadir dengan keheningan yang penuh arti.

Keluarga Jawa yang kental dengan adat dan pertimbangan menyarannkan bahwa pernikahan anak secara otomatis akan ditunda jika ada anggota keluarga baik pihak perempuan maupun laki-laki ada yang meninggal, sebaiknya pernikahannya ditunda dulu selama masa satu tahun saja.

Entah mitos atau bukan, Alisa yang kini pun merasakan enggan melaksanakan pesta pernikahaan saat ini, sebab hatinya baru saja terluka. Tak ada keraguan sedikitpun dari keluarga Hendra memutuskan bahwa pernikahan Alisa dan Hendra harus ditunda satu tahun.

musyawarah keluarga mereda dengan gemuruh kesunyian yang menggetarkan jiwa. Keheningan itu bukanlah sekadar absensi kata-kata, melainkan sebuah panggilan kepada kesedihan yang tak terungkapkan.

Hendra, yang semula menentang dengan gigih keputusan orang tuanya, kini menyerah dengan hati yang berat. Matanya bertaut dengan Alisa, yang wajahnya dipenuhi dengan senyum yang ternyata hanya selubung bagi kepedihan yang menghempasnya. Dalam tatapan itu terpantul sebuah permintaan maaf yang sederhana namun bermakna, seakan-akan menyerahkan diri pada belenggu takdir yang sudah terukir.

Namun, di balik kedamaian yang palsu itu, Alisa merasa dirinya tenggelam dalam lautan kebimbangan yang tak berujung. Setiap percikan udara yang terhirup memperbesar rasa kekosongan dalam hatinya. Sebuah permohonan maaf yang disuarakan oleh Hendra, seolah menjadi pukulan yang menghempaskan hatinya pada tanah yang gersang.

Di antara mereka, terbentang jurang yang tak terucapkan, menganga lebar memisahkan dua hati yang dulu hampir terikat dalam ikatan yang kuat.

Alisa dan Hendra merenungkan nasib mereka yang kini tergantung pada sehelai benang tipis tak berujung, mencoba mencari makna di dalam kehampaan yang menyelimuti jiwa mereka.

Hari-hari berlalu tanpa ampun, Alisa terus terjebak dalam kehampaan yang tak terucapkan di hadapan Bu Maliah, ibunya. Dalam kebisuannya, Ia mencoba menyembunyikan kegelisahan yang merayapi hatinya, tetapi mata hati seorang ibu tidak pernah luput dari memahami gelora emosi yang menghempas anaknya.

Dalam kesepiannya, Alisa duduk di depan Bu Maliah, wajahnya terlihat murung dan terluka. Setiap helaan nafasnya terasa berat, memperlihatkan beban yang terlalu besar untuk ditanggung oleh pundaknya yang rapuh. Meski bibirnya berusaha untuk tersenyum, namun mata Alisa, cermin dari hatinya, terpancar dengan kepedihan yang tak terbendung.

Bu Maliah, dengan kebijaksanaannya sebagai seorang ibu, merasakan getaran kegelisahan yang merajai hati Alisa. Meskipun kata-kata tak terucap, namun rasa sayang yang melimpah dari hati seorang ibu mampu membaca setiap gerak dan ekspresi anaknya dengan cermat. Ia mengangkat pandangannya, menatap mata Alisa dengan penuh kasih sayang dan pengertian yang mendalam.

Dalam diam yang kian menyergap, kedua wanita itu saling bertaut, terhubung oleh ikatan batin yang tak terlukiskan. Alisa merasa lega, meskipun tak satu kata pun terucap, namun kehadiran ibunya telah menjadi pelipur lara dalam kesunyian yang melanda. Dan di dalam keheningan itu, keduanya menemukan kekuatan untuk terus bersama, menghadapi badai yang menerpa dengan tekad yang teguh dan cinta yang tak tergoyahkan.

Bu Maliah, yang sebelumnya sudah terombang-ambing dalam lautan kesedihan karena kehilangan suami tercinta, kini disergap oleh berita tak terduga yang menambah beban berat di pundaknya. Kehadiran keluarga calon pengantin Hendra, dengan keputusan untuk menunda pernikahan Alisa dan Hendra, seperti menghujani hidupnya dengan guntur petir yang tak terduga.

Hatinya yang hancur berkeping-keping akibat kehilangan suaminya terus digilas oleh ombak duka yang kian bergelora. Setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas bara api, menyulut nyeri yang tak tertahankan. Baginya, kehilangan suami adalah pukulan yang telah merobek hatinya menjadi serpihan-serpihan yang tak terhitung jumlahnya.

Namun, kini keputusan untuk menunda pernikahan putrinya, Alisa, menghadirkan luka baru yang tak terbayangkan. Bayangan perasaan rapuh yang mungkin menghimpit hati Alisa, putrinya yang sedang berjuang menghadapi kepedihan yang sama, menusuk-nusuk hatinya dengan pedang yang tak berbelas kasihan.

Bu Maliah merasakan dirinya seperti seorang prajurit yang terluka dalam pertempuran tanpa akhir, dipaksa untuk melangkah maju meskipun kakinya sudah terluka parah. Namun, meski hatinya hancur oleh beban yang terlalu berat untuk ditanggung, ia bertekad untuk tetap menjadi benteng kekuatan bagi putrinya.

Alisa berdiri dengan senyum yang tampaknya begitu rapuh di wajahnya. Setiap serat hatinya terasa seperti terkoyak oleh angin kesedihan yang melanda, tetapi ia memilih untuk menahan diri, menampilkan ketenangan yang palsu di tengah badai yang menerpa.
Lanjut Baca
Dalam tatapan matanya yang terdalam, tersembunyi kebingungan dan kepedihan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun, dia mencoba menatap masa depan dengan mata yang penuh dengan harapan yang lembut, meskipun dihantui oleh bayang-bayang keraguan yang terus mengintainya.

Senyum yang ia tampilkan bagai gambaran akan kekuatan yang mungkin telah lama ia kubur di dalam dirinya, tetapi sekarang, dihadapkan oleh kenyataan yang tak terhindarkan, ia harus menggali dan menemukan ketegaran yang tersisa. Meskipun hanya sebagai sandiwara yang rapuh, senyum itu menjadi simbol dari keberaniannya untuk tetap bertahan, bahkan ketika dunia seakan runtuh di sekelilingnya.

Dalam diam yang menyelimuti, Alisa menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan gelombang emosi yang menghantamnya. Dia tahu bahwa di balik senyumnya yang semu itu, ada api yang masih berkobar di dalam dirinya, siap untuk menyalakan cahaya di tengah kegelapan yang melanda. Dan dengan itu, dia melangkah maju, menantang takdir dengan ketabahan yang mungkin tak terduga, siap menghadapi segala rintangan yang mungkin menantinya di jalan yang panjang yang telah terbentang di hadapannya.

Arya, seorang anak laki-laki yang masih belia dan belum mengerti sepenuhnya akan kompleksitas kehidupan, baru saja pulang sekolah dan ia hanya mampu menatap ibu dan kakaknya dengan mata yang penuh tanda tanya. Dalam kepolosannya, dia merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, meskipun dia tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi.

Dia melihat ibu dan kakaknya dengan wajah yang murung dan penuh dengan kegelisahan, namun dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi. Dalam kebingungannya, Arya merasa sedikit canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Namun, meski belum memahami sepenuhnya situasi yang tengah dihadapi oleh ibu dan kakaknya, Arya merasakan getaran emosi yang mengalir di antara mereka. Dia merasa sedih melihat kedua wanita yang selalu ada untuknya, kini terlihat begitu rapuh.

Arya hanya bisa berdiri di tempatnya, merasa terombang-ambing dalam lautan kebingungan. Namun, di balik ketidakpastian itu, ia merasa kebutuhan yang mendesak untuk menjadi kuat bagi ibu dan kakaknya, bahkan jika itu hanya dalam bentuk kehadiran yang diam dan penuh dengan rasa kasih sayang.

Dalam kesunyian yang menggelayuti kediaman mereka, Bu Maliah menghampiri Alisa dengan langkah yang penuh dengan kelembutan. Tanpa sepatah kata pun terucap, ia memeluk putrinya dengan erat, seolah-olah hendak menyampaikan seluruh pesan cinta dan dukungan yang tak terungkapkan dengan kata-kata.

Dalam pelukan yang hangat itu, Alisa merasakan kedamaian yang lama ia cari. Meskipun bulir-bulir air mata tak terbendung membanjiri pipinya, namun rasa hangat dari pelukan ibunya memberikan kekuatan yang tak terhingga. Dalam rangkaian gemetar dan gemuruh isak tangis, Alisa merasa terlindungi dan dipahami oleh ibunya. Bu Maliah, dengan segala kelembutan yang dimilikinya sebagai seorang ibu, mencoba menenangkan Alisa yang terguncang oleh gelombang emosi yang melanda.

Dia menggenggam tubuh putrinya erat-erat, seakan-akan ingin melindunginya dari semua penderitaan dunia. Meskipun tak ada kata-kata yang diucapkan, namun dalam pelukan itu tersemat sebuah pesan yang tak terungkapkan, sebuah janji bahwa mereka akan selalu bersama, menghadapi segala rintangan dengan kekuatan dan cinta yang tak terbatas.

Dalam keheningan yang penuh makna, mereka saling menguatkan satu sama lain, terhubung oleh ikatan batin yang tak terpisahkan. Dan di dalam pelukan itu, terucapkan sebuah kehangatan yang melampaui segala kata-kata, sebuah kekuatan yang menjaga kekokohan hubungan mereka di tengah badai yang menerpa.

Beberapa minggu berlalu setelah pertemuan keluarga itu, akhirnya Alisa berterus terang pada Bu Maliah bahwa ia akan segera pergi merantau mencari pekerjaan agar ia pun menjemput kesibukannya untuk sekedar menghindar dari pertanyaan tetangganya yang selalu ingin tahu, kapan pernikahannya akan digelar. Meski kenyataan pahit yang ia rasakan saat ini mendominasi pikiran dan keputusannya, Alisa mantap dengan keputusannya.

Alisa yang pernikahannya tertunda kini sudah lebih dulu mengambil Keputusan dalam kesedihan keluarganya. Ia memilih untuk mencoba peruntungan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk bekal pernikahannya kelak. Alisa mencoba peruntungan dengan berbekal ijazah SMA dan kemampuannya dalam menjahit ia berharap dipertemukan dengan pekerjaan yang sesuai.

Pagi ini Alisa berpamitan pada Bu Maliah dan Arya adiknya. “ Bu, Alisa Pamit pergi Ke Yogya, di sana Bude Silas akan membantu Alisa mencarikan pekerjaan di pabrik tempat anaknya kini bekerja”. Ucap Alisa dengan wajahnya yang menatap Ibunya penuh harapan.

“ baik-baik di sana ya Nak, Ibu doakan agar engkau segera mendapatkan pekerjaan!”

Sambil mengganggukkan kepala Alisa menjawab doa Ibunya, setelah itu berpamitan dengan mencium tangan Ibunya dan kini ia peluk Bu Maliah dengan erat.

Alisa pun menatap arya dan bersalaman lalu memeluknya. “jaga Ibu baik-baik ya Dek!” bisik Alisa yang menahan air mata, tatapannya berkaca-kaca dan senyum semunya menusuk hati sang Ibu.

Bu Maliah merasa berat hati melepas Puterinya Pergi, air mata doa dan harapannya kini meleleh membasahi pipinya,Ia melepaskan tatapan pada Langkah putrinya yang kini sudah melangkah pergi.

Dengan menggunakan sepeda motor, Alisa diantar Hendra ke stasiun kereta untuk menemui Bude Silas di Yogyakarta.

Dalam perjalanan menuju stasiun itu terasa sesak bagi Hendra yang terpaksa merelakan calon istrinya untuk pergi, suara motor seperti alunan melodi kepedihan. Mereka terdiam tanpa banyak kata yang terucap dari keduanya.

“Dek, maafkan Aku dan keluargaku!” hanya kalimat itu saja yang kini bisa Hendra ucapkan pada Alisa yang diam.

“sudahlah Mas, tak perlu lagi kita bahas tentang hal itu, aku dan Ibu sudah memaafkan dan memakluminya”. Jawab Alisa singkat.

“Inilah jalan yang terbaik untuk kita, Orang tuamu benar Mas”. Jawab Alisa penuh sesak.

Tiket kereta yang sudah Alisa pesan tiga hari yang lalu menunjukkan keberangkatan keretanya pukul 08.00 WIB, hanya 15 menit mereka duduk di kursi tunggu hingga suara kereta itu terdengar jelas meski dari kejauhan.

Untuk kedua kalinya Alisa berpamitan pada orang yang Ia sayangi. Tanpa menatap kebelakang, Alisa menuju kursi di gerbong kereta, ia duduk dipinggir jendela dan menatap keluar dengan jelas. Ia tak sanggup lagi menatap Hendra yang masih mencari Alisa dibalik jendela gerbong kereta.

Terlihat jelas raut wajahnya yang kecewa dan sedih. Namun Alisa tak mau menatapnya. Ia takut akan dirinya yang goyah dan berubah pikiran. Tepat 08.00 WIB Kereta Kulon Progo jurusan Banjar Yogyakarta itu melaju meninggalkan tatapan Hendra yang diselimuti kehilangan sang kekasih.

Sementara Bu Maliah kembali dengan aktifitas menyulam harapan dibalik kerasnya dunia. Setiap pagi Maliah pergi ke sawah atau ke ladang untuk sekedar menjadi buruh tani bagi tetangganya. Mencabut rumput baginya adalah menata harapan untuk menghidupi dirinya dan anak laki-lakinya yang kini usianya baru saja menginjak 9 tahun.

Ketika Bu Maliah membersihkan kamar Alisa, ia menemukan secarik kertas yang dilipat rapih terselip diantara buku-buku Alisa semasa SMA dulu. Entah kapan Alisa menuliskannya, puisi tanpa judul itu tertuju padanya.

Puisi ini untuk Ibu yang setiap aku tanya hari ulang tahun tak pernah dijawabnya, karena Ibu bahkan tak hafal tanggal lahirnya sendiri. Ibu hanya hafal tanggal ulang tahun anak-anaknya saja.



Ibu, kau adalah Pundak terkuat
Senyumanmu bagai sihir yang menyilaukan
Ibu terkasih
Tiap sentuhanmu, hirupan nafas lega,
Menjadi anting-anting bagi luka hati.


Di balik luka yang kian memerah,
Ada pelangi di pelukanmu, Ibu tercinta.
Setiap detik, sentuhanmu meredakan lara,
Menjadi obat yang mengusir kepedihan.

Bagai embun pagi di tengah gersang,
Engkau menjelma menjadi hujan pertama.
Dalam dekapanmu, tak tersisa pilu sedikitpun,
Kau bagai rahmat yang menghilangkan kepenatan.

Engkau seperti matahari di hari hujan,
Menyinari hati yang kelam dengan cinta.
Pada pelukanmu, tak ada yang mustahil,
Kau adalah pelipur lara, Ibu tercinta.

Dalam langkahku, engkau tak pernah jauh,
Sebagai penuntun dalam gelapnya malam.

Ibu, kau pelipur lara,
Sinar yang mengusir kegelapan.
Di setiap tatapanmu terukir pesona kelembutan,
Kau simbol kehangatan dalam kedinginan.
Kau, Ibu, tempatku berlabuh dalam gelombang,
Dalam dekapanmu, tercipta kedamaian yang abadi.

Terima kasih, atas segalanya,
Dalam pelukanmu, ku temukan ketenangan,
Di setiap senyummu, terukir kebahagiaan.
Engkau adalah tempatku kembali,
Terima kasih, Ibu, atas segalanya,
Dalam pelukanmu, tak ada ruang untuk duka,


Untuk Lanjut Baca Harus masukan Token. Dapatkan Token
Epilog chapter 2
Perpisahan ini menampilkan ikatan ibu dan anak yang terpisah jarak, ruang dan waktu. Sesekali kerinduan akan puterinya menyeruak menyusuri relung hatinya. Doa dan harapan itu menjadi benteng terakhir bagi Maliah untuk selalu tegar. Ibu yang hancur akan selalu menjadi kuat untuk anaknya. Diantara serpihan duka dan tangan yang gemetar seorang Ibu selalu ada doa yang menjadi penopang sumber keajaiban yang terukir dalam cerita keabadian kasihNya.