Arti Sahabat | Maliah-Novel Inspiratif

Table of Contents
Chapter 5 | Maliah-Novel Inspiratif

Di bawah langit senja yang merona, bayangan seorang ayah terpatri dalam memori anak laki-lakinya. langkah-langkahnya terasa berat karena beban kehilangan yang terlalu besar untuk dipikulnya sendiri. Arya selalu merindukan kehadiran yang telah tiada, namun kebaikan dan kasih sayangnya terus hidup dalam jiwanya.

Setiap matahari terbenam membawa kenangan manis tentang pelukan hangat sang ayah, tentang senyumnya yang menghibur, dan tentang kata-kata bijaknya yang menjadi pegangan dalam setiap langkah. Meskipun fisiknya telah berpisah, kehadirannya terus membimbing dan memberikan kekuatan di setiap langkah hidup mereka.

Dalam doa dan kenangan, sang ayah tetap hadir, merangkul hati anak laki-lakinya dengan cinta abadi yang tak terpadamkan. Hidupnya yang dipenuhi oleh bayangan kesedihan yang tak terucap.

Matanya yang bulat memancarkan kebingungan dan kehilangan, mencari-cari kehadiran sosok ayah yang kini tak lagi hadir untuk memberikan arahan dan kasih sayang. Namun, meski masih muda,

Kini Arya sudah remaja SMA kelas 3 dengan langkah tegar dan hati yang penuh syukur, Arya melangkah ke masa depannya yang cerah, sambil membawa serta kenangan manis tentang sepatu bekas pemberian seseorang yang telah mengubah hidupnya.

Meski terkadang cobaan datang dari arah yang tak terduga, namun semangatnya tetap berkobar di dalam dadanya.

Arya dalam usianya yang masih belia terkadang ingin bermain lepas seperti teman-temannya tanpa beban.

Pernah ia pun merasa putus asa karena beberapa minggu ini Ia mendapatkan ejekan dari teman sekelasnya karena sepatu yang Arya pakai sudah usang bahkan bolong di bagian ujung jempolnya.

“Ha..haa...haaa sepatu Arya bolong….” teriak Harun pada teman sekelasnya yang lain sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Dalam remang usia yang masih berseri, Arya kadang merindukan lepasnya bermain, mengikuti jejak langkah teman-temannya tanpa beban yang mengikat. Namun, di tengah kerinduan itu, terkadang terselip keluh kesah yang menghunjam di sanubarinya ketika ejekan teman sekelasnya menyerang, menggoreskan luka yang tak terlihat. Rasa malu dan kekecewaan pun menghiasi sudut hatinya ketika melihat sepatunya yang usang, bolong di ujung jempolnya, menjadi sasaran cemoohan.

“Ha..haa...haaa.” tawa Harun merayap mengiringi ejekan yang dilemparkan pada sepatu Arya, menambah bobot beban di pundaknya. Dengan wajah yang tenang dan cuek, Arya memilih untuk mengabaikan ejekan tersebut. Seperti air yang mengalir melalui batu-batu, ia membiarkan kata-kata pedas itu tak menghentikan langkahnya. Di balik gugup yang merayap, Arya menjaga hatinya tetap utuh, merangkul keyakinan bahwa nilai sejati tak terukur oleh bahan, melainkan oleh kebaikan dan ketulusan jiwa yang terpancar darinya.

Kini, dihadapkan pada ejekan dan cibiran dari teman-temannya, ia menyadari bahwa keberanian sejati bukanlah tentang menunjukkan kekuatan fisik, melainkan tentang menjaga keberanian dan harga dirinya di tengah tekanan dari lingkungan sekitarnya.
Lanjut Baca

Meskipun dipandang sebelah mata karena penampilan dan latar belakangnya, Arya tidak pernah menyerah pada keadaan.

Dalam setiap ejekan dan cemooh yang menghampirinya, ia menjadikannya sebagai batu loncatan untuk semakin tegar dan tangguh. Namun, di balik kekecewaannya, masih terdapat api keberanian dan tekad yang membara di dalam dirinya.

Dengan langkah yang mantap, meskipun hatinya bergetar oleh peristiwa yang baru saja terjadi, Arya tetap melangkah maju. Ia menyadari bahwa dalam dunia yang keras ini, ia harus bertahan dan memperjuangkan impian-impian kecilnya.

Pakaian sederhana yang menjadi lambang kesederhanaan hidupnya mengangkat kepala dengan bangga. Baginya, status yatim bukanlah penghalang untuk meraih impian dan cita-citanya. Ia percaya bahwa setiap langkah kecil yang diambilnya adalah langkah menuju keberhasilan, meskipun diwarnai oleh cemoohan dan ejekan dari sekitarnya.

Kini, di tengah cemoohan dan ejekan yang menghujani dirinya, Arya tetap berdiri tegar seperti pohon yang kokoh di tengah badai. Ia tahu bahwa cahaya keberanian dan semangatnya akan selalu membimbingnya melewati gelapnya malam, menuju fajar yang cerah di ufuk yang jauh.

Dalam setiap detik yang berlalu, Arya harus menanggung beban yang bertambah saat ibunya, Maliah, terbaring sakit dan tak mampu lagi berdagang. Dalam keputusasaan itu, Arya dengan berani mencoba menggantikan peran ibunya, membawa dagangan kecilnya ke sekolah. Namun, di balik keberanian itu, terbersit rasa malu dan gugup yang menyusup di dadanya. Baginya, langkah ini adalah langkah besar yang diambil dengan perasaan campur aduk antara keberanian dan keraguan. Namun, demi keberlangsungan hidup keluarganya, Arya memilih untuk menghadapi tantangan itu dengan penuh tekad meski dalam ketidakpastian yang melingkupi.

Dengan segala keraguan yang menghampirinya, Arya menyadari bahwa langkah ini adalah awal dari perjalanan menuju sebuah harapan baru bagi dirinya dan keluarganya. Meskipun langkah itu diawali dengan rasa gugup dan kebingungan, namun di dalamnya tersemat benih keberanian yang siap tumbuh menjadi pohon kesuksesan. Dengan tekad yang bulat, Arya memilih untuk melangkah maju, memandang masa depan dengan penuh harapan, sambil menggenggam erat mimpi untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi ibunya dan dirinya sendiri. Langkah awal ini, baginya, adalah tonggak berharga yang akan membuka jalan menuju perubahan yang lebih baik dalam hidup mereka.

Lagi-lagi suara miring cemoohan dari harun terdengar menyesakkan.

Si tukang jualan ini punya mimpi ingin beli sepaatu baru ya.

"Hahaha.... ujarnya sambil tertawa dan menepuk bahu Arya."

Saat itu Arya hanya diam.

Meskipun suara miring dan cemoohan dari Harun menyesakkan, Arya memilih untuk tetap diam. Dalam keheningan yang menyelimuti, ia memilih untuk memendam perasaannya sendiri, tanpa membiarkan kata-kata pedas itu merusak tekadnya. Meskipun hatinya mungkin terluka, namun di dalamnya terdapat api kebulatan tekad yang semakin berkobar. Dalam diamnya, Arya memeluk impiannya untuk bisa memberikan yang terbaik bagi ibunya, meski harus menanggung cemoohan dan ejekan dari teman sekelasnya. Diamnya Arya bukanlah kekalahan, melainkan bukti dari kekuatan batin yang mengalir dalam dirinya, siap untuk menghadapi segala rintangan di masa depan.

Arya berdagang hanya saat jam istirahat, dengan menata kue kue itu di meja dalam kelasnya. Biasanya teman yang ingin jajan kue kuenya berdatangan ke kelas Arya.

Dengan cermat dan penuh semangat, Arya menjalankan bisnis kecilnya hanya pada waktu istirahat di sekolah, menyusun berbagai macam kue di atas meja yang diposisikan di tengah-tengah ruang kelas. Suasana kelas yang semula sepi berubah menjadi ramai saat teman-temannya mulai berdatangan untuk membeli kue-kue yang ditawarkan oleh Arya. Di dalam keriuhan yang tercipta, aroma manis kue dan tawa ceria teman-teman bergabung menjadi satu, mengisi ruangan dengan kehangatan dan keceriaan. Meskipun terlibat dalam kegiatan dagang, Arya tetap menjaga kepatuhan pada aturan sekolah dan konsentrasi pada pelajaran, sambil dengan penuh keramahan melayani setiap pembeli yang datang.

Harun yang sepertinya tidak senang bergumam dengan teman lainnya. “heran, kok kalian mau-maunya makan makanan Si Arya.” Ia pun berbisik.

“Hey kalian tak takut ketularan penyakit Ibunya, Ibunya kan sakit parah sudah sebulan ini.” Dengan nada gumaman yang penuh kebencian, Harun menyampaikan ketidakpuasannya kepada teman-temannya dengan sepasang mata yang mengisyaratkan ketidaksenangannya.

"Apa sih enaknya kue itu," desisnya dengan suara yang menandakan ketidaksukaan yang mendalam. Kemudian, dengan gerakan bibir yang berbisik, ia menyampaikan keraguan tersembunyi.

"Hem, cara membuatnya juga tak terlalu bersih," bisiknya sambil menundukkan kepala. Suaranya meluap dengan kegelisahan, membenamkan mereka dalam keheningan yang membeku. Lalu, dengan kata-kata yang terdengar seolah berdesir di antara nafasnya, Harun memperingatkan teman-temannya dengan kekhawatiran yang terpendam.

"Hey, kalian tidak takut tertular penyakit yang diderita Ibunya?" Bisiknya, menggugah kesadaran teman-temannya akan risiko yang mungkin timbul, menggiring mereka pada sebuah perenungan yang mendalam di tengah gelombang cemoohan yang menghampiri Arya.

Dengan rasa ingin tahu yang memuncak, teman-teman Arya yang lain turut mencari tahu tentang keadaan Ibunya. Namun, rumor yang tersebar itu juga terdengar oleh Arya, membingungkan hatinya dengan perasaan sedih dan amarah yang meluap-luap terhadap Harun yang begitu tega menyuarakan kata-kata tersebut. Dalam benaknya, gambaran Ibunya yang sakit membuatnya merasa terpukul, sementara ejekan-ejekan yang dilemparkan oleh Harun semakin memperkeruh suasana hatinya.

"Ibunya sakit-sakitan, mungkin saja di dagangannya banyak bakteri yang bisa menularkan penyakit," gumam Harun dengan rasa takut yang menyelinap.

Perasaan itu semakin membesar ketika ia menyadari bahwa candaan itu tidak sekadar lelucon biasa, melainkan cemoohan yang mengarah pada upaya untuk menghentikan pembelian jajanan yang ia buat. Rasanya, setiap kata yang dilontarkan oleh Harun menjadi pukulan yang meruntuhkan semangatnya untuk terus berusaha.

Dalam keriuhan yang memenuhi ruangan, rasa ingin tahu yang membara mewarnai wajah teman-teman Arya yang lain, menimbulkan gelombang tanya yang mengalir deras. Namun, di antara riuh rendah itu, Arya meratapi kata-kata yang terlontar dari mulut Harun dengan perasaan campuran antara kesedihan dan kemarahan yang menghujam ke dalam hatinya. Dalam relung hatinya, bayangan Ibunya yang sakit memunculkan riak-riak kegelisahan yang tak terbendung, sementara celaan-celaan yang dihembuskan oleh Harun semakin menghimpitnya dengan tekanan yang tak terelakkan.

Ibunya sakit-sakitan, mungkin saja di dagangannya banyak bakteri yang bisa menularkan penyakit," bisikan Arya menyelinap dengan nada gelisah yang menyergap. Dalam setiap kata yang diucapkannya, terpantul rasa takut yang menghantui pikirannya. Namun, yang lebih menggoncangkan, adalah kesadaran bahwa lelucon itu tak sekadar semata-mata humor, melainkan sebuah serangan yang mengancam kelangsungan usaha kecilnya. Rasanya, setiap serpihan kata yang terucap dari bibir Harun menjadi belati tajam yang menusuk hatinya, meruntuhkan keberanian Arya untuk terus berjuang.

Dalam pusaran emosi yang semakin memuncak, kemarahan Arya meledak begitu ia menyadari bahwa Harun telah dengan semena-mena menyebut-nyebut nama Ibunya yang sedang sakit. Api kemarahan membakar dalam dirinya, memancarkan sinar kemarahan yang menggelegak di matanya.

Betapa kejamnya ucapan Harun, menyentuh luka yang belum sembuh dalam hati Arya. Rasa sakit dan kecewa menyatu dalam satu gelombang yang menghantam, membuatnya merasa dihina dan diinjak-injak harga dirinya. Dalam detik-detik yang memilukan itu, Arya merasakan semangat perlawanan membara dalam dirinya, menuntut keadilan atas nama ibunya yang tak berdaya.

Dengan langkah-langkah mantap, Arya memutuskan untuk menghadapi Harun, bukan sekadar sebagai balas dendam, tetapi sebagai pernyataan bahwa tidak ada yang bisa merendahkan martabatnya dan menghina nama baik Ibunya tanpa pertanggungjawaban.

Dengan emosi yang meluap-luap, Arya tak bisa lagi menahan diri. Dia menatap tajam ke arah Harun, lalu dengan suara yang penuh dengan rasa tak terima, dia berkata, "Apa maksudmu menyebarkan berita itu pada yang lain?"

Dalam nada suaranya terdengar kekecewaan yang mendalam, dan di matanya terpancar kebingungan serta kekesalan atas tindakan Harun yang dianggapnya tidak bermoral. Dalam kata-katanya, tersirat keputusasaan karena perasaan tidak adil yang dirasakan Arya akibat dari perbuatan Harun yang telah menyebarluaskan informasi pribadi tersebut tanpa rasa hormat.

Dengan tatapan yang penuh dengan keangkuhan, Harun menjawab pertanyaan Arya tanpa rasa penyesalan. "Ibumu memang sedang sakit kan, apa salahku mengatakan itu?" ujarnya dengan nada yang merendahkan.

Kata-katanya seperti cambukan yang menusuk hati Arya lebih dalam lagi. Keangkuhan yang terpancar dari matanya membuat Arya semakin merasa terhina dan terancam. Baginya, ucapan Harun bukan hanya sekadar bentuk keberanian, tetapi sebuah serangan yang tak termaafkan terhadap martabatnya dan keadaan Ibunya yang sedang sakit.

Dalam diamnya, Arya mencari kekuatan untuk menanggapi tantangan yang dilemparkan oleh Harun, sambil merencanakan langkah-langkah selanjutnya untuk menegakkan kebenaran dan melindungi harga dirinya serta keluarganya.

Dengan nada yang tinggi dan penuh emosi, Arya menjawab, "Ya, benar Ibuku memang sedang sakit." Tatapannya menusuk tajam ke arah Harun, memancarkan kekecewaan yang mendalam akan sikap acuhnya.

Wajah Harun yang masih cengar-cengir tanpa kesadaran akan dampak dari kata-katanya semakin menambah bara kemarahan dalam diri Arya. Bahkan, dari ekspresi wajahnya, terlihat jelas bahwa Harun bahkan ingin melanjutkan debat dengan Arya, tanpa merasa bersalah atas tindakannya yang telah menyakiti perasaan temannya itu.

Dalam kebisingan yang memenuhi ruangan, pertarungan tidak hanya terjadi di antara kata-kata, tetapi juga dalam pertempuran batin Arya yang harus mempertahankan harga dirinya dan melawan sikap tidak bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh Harun.

Dengan suara yang tegas dan penuh dengan keberanian, Arya kembali menegaskan pada Harun, "Ibuku memang sedang sakit, tapi tidak menjijikkan dan tidak memiliki penyakit menular seperti yang kau sebarkan."

Kata-katanya terdengar sebagai bentuk pembelaan yang kuat terhadap kehormatan Ibunya dan juga dirinya sendiri. Dalam kejelasan suaranya, tergambar sikap teguh Arya dalam menentang segala bentuk fitnah dan penyebaran informasi yang tidak benar.

Dalam wajahnya yang dipenuhi dengan keberanian, Arya menghadapi Harun dengan sikap yang teguh, siap untuk menghadapi konfrontasi apapun yang mungkin timbul sebagai hasil dari keberaniannya untuk membela kebenaran.

“Heleh… heleh…. Miskin aja blagu kau… sini kalua berani lawan aku!” Seruan Harun menantang keberanian Arya. “Dasar kau tak tahu diri, menyebarkan penyakit dari makanan yang ibumu buat!” ucapannya kini menambah emosi Arya meluap

“Plak……” tak tunggu lama Harun mengayunkan tamparan keras pada pipi Arya.

“kurang ajar kau Harun.” Arya berteriak.

“Kau memang tak punya hati” Arya pun menangkis tamparan kedua yang akan mengarah padanya. Arya memegang erat pergelangan tangan kanan Harun dan berkata. “ kau boleh mengejekku, tapi tak ku izinkan kau mencemooh Ibuku.”

Sambil gemetar, wajah yang memerah, hati yang tak kunjung tenang Arya gelap mata dan membalas tamparan Harun dengan tinjunya yang mengarah pada wajah Harun.

Seketika ruangan gaduh itu berubah hening dan tegang, “Awas kau nanti Arya.” Ancam Harun sambil mengerang kesakitan karena wajahnya dihantam tinju kepalan tangan penuh. Ia melangkah menjauhi Arya sambil menumpahkan keranjang dagangan yang dibawa Arya. Sontak semua temannya memandangi mereka berdua yang beradu mulut itu.

Teman yang menyaksikan pemandangan itu langsung meminta pertolongan guru dan wali kelasnya hingga akhirnya gurunya datang menghampiri mereka.

“sudah…sudah…. Semuanya bubar” seru Pa Guru membubarkan kerumunan yang tadinya mengelilingi Arya dan Harung, layaknya tontonan.

Riuh gemuruh gumaman teman-teman memudar dan kini tinggallah dirinya dan harun ditemani dua orang guru Pria menggiringnya ke ruangan Bimbingan Konseling.

Seketika Arya sadar telah terpancing emosi dan melibatkan dirinya dalam masalah kelit, “Astagfirullohadadzim….. “ istigfarnya menyadarkan hatinya tak teguh lagi, ia tak tahan dengan ucapan Harun, benteng pertahanan dalam dirinya kini hancur akibat temannya itu.

Dalam ruang bimbingan Ia dihadapkan pada permasalahan yang bahkan mungkin sebagai korban ejekan sekaligus fisik yang juga terkena tamparan keras Harun. Namun yang Arya sesalkan saat ini adalah bahwa Ia tak bisa menahan emosinya, Ia sadar jika Ibunya tahu bahwa dirinya terlibat perkelahian itu, Bu Maliah akan kecewa dan sedih. Kini ia bingung jika harus menghadapi kekecewaan ibunnya yang justru sedang sakit di rumah.

Arya hanya berkata jujur pada Guru yang mengintrogasinya, tanpa menutupi dan mengakui kesalahannya yang tak mampu menahan emosinya saat Harun mngjek Ibunya dan menampar pipinya.

Namun Harun berkelit merasa Ia yang paling tersakiti saat ini “ Pak saya kena tinju dia.” Sambil telunjuknya menuju arah Arya yang duduk di dekat Bu Ema wali kelasnya. “Arya meninju saya Pak, sampai hidung saya berdarah.” Harun masih dengan angkuhnya tidak menerima dan tidak mau mengakui kesalahannya.

“Denga rya anak-anak… berkelahi itu bukan Solusi menyelesaikan masalah, main fisik hanya kan merugikan semua orang!” Nasihat Bu Ema menyadarkan Arya yang kini duduk diam merenungkan kealahannya. Ia menyesali seandainya aku tak terpancing emosi tadi, mungkin masalahnya tak serunyam sekarang.

“Baik kini Bapak dan wali kelasmu akan memnaggil orang tua kalian ya, untuk menyelesaikan semua permasalahan ini.” Kalimat dari Pa Guru tersebut membuat hati Arya bergetar dan ketar-ketir karena Ia merasa akan membuat Ibu kecewa dan sedih.

Sementara ekspresi berbeda ditunjukkan oleh Harun yang menyeringai senyum dan merasa Ia akan mendapatkan pembelaan yang baik oleh orang tuanya.

Harun adalah anak orang berada bahkan Bapaknya seorang perwira di kepolisian, tentu saja Harun merasa memiliki tameng dalam hidupnya Ia tidak pernah merasa bersalah.

“Mari untuk sekarang kalian boleh pulang dan mohon sampaikan surat panggilan orang tua ini kelapa orang tua masing-masing.” Ucap Bu Ema pada Arya dan Harun.

Mereka berdua pun keluar ruangan dengan ekspresi yang berbeda diantara keduanya.

Harun masih saja mengoceh dengan ancaman-ancaman yang keluar dari mulutnya yang angkuh.

Saat bel pulang berbunyi Arya mulai gelisah untuk pulang dan surat panggilan itu kini ada digenggamannya.

Sesampainya di rumah, Arya mengucap salam dengan segala Lelah yang ia lalui hari ini di sekolah.

Assalamu’alaikum……Arya pulang Bu.” Sapa Arya pada Ibunya yang duduk di teras sambil tersenyum memandangi arya.

“waalaikumssalam wr wb,,,,,allhamdulillah sudah pulang.” Jawab Bu Maliah sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan putranya.

“Ibu sudah baikan Bu?” tanya Arya seraya menyembunyikan perasaan gugupnya pada sang Ibu.

Arya tak mau menambah beban pikiran ibunya dengan menunjukkan surat panggilan itu, sehingga ia menyembunyikan surat tersebut di dalam bukunya yang kini tersimpan rapi dalam tas gendong berwarna biru using miliknya.

Setelah menyapa Ibunya kini ia menuju kamar dan menyimpan peralatan sekolahnya, Arya Pun melanjutkan aktifitas lainnya.

Ibu Maliah yang masih duduk di teras memanggilnya.” Nak,,,, nak,,,,” panggilan itu ditujukan kepada Arya.

“ya Bu,,,, ada apa Bu?” Arya yang sedang mencuci peralatan dan keranjang kue itu datang menemui Ibunya.

“Sini Nak, tolong ambilkan ibu minum the hangat ya!” pinta Bu Maliah saat ini.

“Baik Bu..” jawab Arya singkat tanpa menatap wajah Ibunya, ia takut ibunya menyadari keresahannya.

Maliah yang mengamati tingkah laku Arya menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Arya darinya tak langsung bertanya, namun ia mencoba perlahan mencairkan suasana dengan mengajak arya bercengkrama dengan penuh kasih saying, Ia menceritakan kisa Ayahnya dulu yang masih ia ingat saat Arya masih kecil.

Selepas Ibu merasa Arya sudah tenang, barulah ia bertanya padanya. “Nak, ada apa ibu perhatikan ada sesuatu yang ingin kau sampaikan.” Tatapan Ibu Maliah yang penuh rasa penasaran menuju pada Arya yang kebingungan mau memulai dari mana.

“Ceritakanlah… apapun yang kamu rasakan, ada apa Nak?” dengan perlahan suara Bu Maliah yang lembut menenangkan hati Arya.

“i…ini… Bu” Arya dengan ragu memberika surat panggilan orang tua kepada Ibu.

“ada surat panggilan orang tua Bu, Maafkan Aku Bu,, maafkan Arya Bu…….” Arya dengan mata yang beerkaca-kaca mulai menjelaskan kejadian tadi siang di sekolah.

“arya Khilaf Bu, Arya gelap mata, Arya yang salah tak bisa menahan emosi yang meluap… Bu maafkan Arya Bu….!” Arya meraih tangan Ibunya dan menciumnya lama. Air matanya tak mampu ia bending lagi saat ibu bertanya padanya

“Nak,,,, Ibu memang kecewa padamu, seharusnya kau teguh dengan hatimu, tak perlu kau hiraukan ocehan temanmu yang mengejek itu… biarkanlah…!”

Maliah menepuk-nepuk bahu Arya yang kini bersimpuh dipangguannya.”Ibu mamafkanmu, besok kita ke sekolah ya, Ibu akan temani kamu bertemu gurumu untuk menjelaskan semuanya, kita yang akan minta maaf pada keluarganya Harun dan pihak sekolah ya, jangan khawatir, Ibu tidak marah Nak” ucapan Bu Maliah menutup perbincangannya sore itu.

Arya mengingat pesan Maliah yang dengan penuh cinta kasih seorang Ibu, bahwa tak perlu kau risau dengan segala keadaan saat ini Tuhan kan membawamu dalam kebahagiaan yang sesungguhnya kelak. Anak sekecil itu dipaksa oleh keadaan untuk mandiri menyadari kesulitan dan tantangannya sendiri.

Malam pun turun, menyelimuti desa dengan gemuruh diam yang memayungi kehidupan Arya. Di balik sinar rembulan yang berkilauan, Arya duduk sendiri di sudut kamarnya. Dalam keheningan, ia mengingat pesan-pesan hangat yang disampaikan oleh Maliah, sang Ibu tercinta yang kini masih sakit.

"Percayalah, Arya," bisik hati Arya, merangkai kata-kata yang pernah diucapkan oleh sang Ibu. "Tuhan akan membawamu dalam kebahagiaan yang sesungguhnya kelak."

Bel sekolah mulai berbunyi, kini Arya ditemani Bu Maliah melangkah menuju ruang Kepala Sekolah, dari arah lain terlihat Bapak berbaju loreng TNI bersama Harun pun sudah hadir, semua yang ada di ruangan itu saling menyapa. Namun tatapan Arya menunduk saat ini karena dia tidak tahu harus berbuat apa di hadapan para orang dewasa itu.

“Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang saat ini hadir, memenuhi undangan kami, mohon maaf kami mengundang Bapak dan Ibu kemari adalah ingin meluruskan kesalahfahaman antara putra putra kita, Harun dan Arya yang kemarin terlibat kesalahfahaman.” Bu Ema mengawali pembicaraan kami saat itu, kemudian guru BK menghadirkan saksi-saksi dari beberapa teman yang menyaksikan kejadian kemarin itu.

Ketegangan yang dirasakan oleh Arya pecah saat Ayahnya Harun mencoba menengahi pembicaraan dalam musyawarah tersebut “Bapak, Ibu guru saya sebagai orang tua Harun meminta maaf kepada sekolah dan terutama keluarga Arya yang sudah sangan dirugikan saat ini oleh anak saya, ketidak tahuan anak saya adalah bukti kelalaian saya sebagai orang tua dalam mendidik akhlaknya. Saya memohon maaf kepada Ibu Maliah dan Arya atas tindakan Harun ya Bu!” Ayahnya Harun mengulurkan salam kepada Arya dan Bu Maliah.

“Tidak Pak, semua kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahan Bpak atau putra bapak, anak saya juga sama-sama tidak dapat menahan emosinya.” Bu Maliah menerima ucapan maaf dari ayahnya Harun dengan Ikhlas. Akhirnya kedua belah pihak pun berdamai.

Keluarga yang berdamai menyepakati bahwa kedua anak mereka yang terlibat perkelahian itu mendapatkan sanksi sosial yakni setiap pagi mereka harus bersalaman jika bertemu, dan secara bersamaan akan mendapatkan tugas membersihkan lapangan volley dan basket untuk beberapa bulan kedepan setelah pulang sekolah.

Hari-hari berlalu Arya dan Harun terpaksa menjalankan tugasnya. Setiap hari mereka harus bersalaman di depan ruang guru disaksikan teman-temannya yang lain. Ada rasa canggung di hati Arya dan juga Harun, namunseiring berjalnnya waktu Harun dan Arya mulai terbiasa.

Setiap pulang sekolah Arya dan Harun membersihkan lapang volley dan basket, atau hanya sekedar menata bola-bola yang masih berserakan di lapangan, sesekali Arya pun mulai membuka harinya berteman dengan Harun yang dulu menyakitinya, Harun dengan karakter sombongnya merasa Ia pun kini tak memiliki teman dekat lagi, semenjak Ayahnya mendisiplinkannya tanpa fasilitas berlebihan kini Harun menyadari teman-temannya menjauhi dirinya karena sifat Harun sebenarnya menjengkelkan dan ingin menang sendiri.

Harun sadar temannya yang dulu mendekatinya hanya merasa tidak nyaman karena sering ia traktir makan gratis. Namun saat ini ia tak pernah lagi mentraktir temannya sehingga mereka satu per satu menjauhinya perlahan.

Sore ini Harun badannya panas dan gemetar sehingga tak mampu memegang sapu untuk membersihkan lapangan. Arya yang sedang menata bola-bola melihatnya kesakitan, lalu ia menghampiri dengan penuh kecemasan.

“Hey,,,, Har kenapa Kau…?” tanya Arya padanya saat ia mulai terkulai lemas.

“aku pusing dan gemetar….” Benar saja badan Harun kini panas dan gemetar.

Arya langsung membantunya berteduh dan pergi ke ruang UKS. Namun naas semua ruangan sudah ditutup, tidak ada petugas UKS disana, Arya membopong Harun ke kursi ruang lobi sekolah. Arya mencari bantuan pada gurunya, “ Bu.. Bu… Harun sakit Bu, Sepertinya lemas sekali bu.” Dengan sigap Guru menghubungi keluarganya dan Harun Pun dijemput mobil oleh sopirnya.

Selepas hari itu Harun dirawat di Rumah Sakit karena terkena penyakit tifus yang sudah akut, Hanya asisten rumah tangganya dan Arya yang selalu menemaninya di RS. Harun tak lagi canggung padanya, kini Harun dan Arya menjadi teman bahkan sahabat baik, Harun menyadari ketulusan Arya padanya bukan memandang dari apa yang Harun miliki, tetapi dari apa yang mereka lalui bersama.

Saat Harun sakit ayahnya sedang tugas di luar kota sedangkan Ibunya sibuk dengan kegiatan-kegiatannya sebagai calon anggota dewan, maka hanya sesekali saat malam mereka bertemu, dan Siang hari ditemani Asisten rumah tangganya saja. Namun kini Ia punya Arya sebagai teman sejati yang ia temukan melalui proses yang rumit.

Empat hari berlalu setelah Harun sembuh dan dinyatakan boleh pulang oleh dokter, Harun meminta Arya mengajaknya main ke rumah Arya.

“Ya,, rumahmu diman sih?” tanya Harun

“dekat sekolah kita Har, masa kau takt ahu? Bukankan dulu kau tahu ibuku sakit karna kau tau rumahku dekat sekolah?” sambil tersenyum meledek Harun yang dulu pernak mengejeknya itu.

“ha..ha… ya aku tau daerahnya dekat sekolah tapi sebenarnya aku tak paham yang mana rumahmu, aku tau ibumu sakit dari teman-teman yang lain.” Harun merasa malu pada dirinya sendiri yang dulu pernah mengejek arya namun kini teman yang paling dekat dengannya justru Arya yang begitu tulus.

“wah…wah….parah kau Har…” sambil tertawa lepas mereka bercerita panjang tentang pengalaman yang mereka alami saat itu. Kini Arya dan Harun mengetahui arti sahabat yang sesungguhnya dari apa yang mereka alami bersama.

Ternyata Harun sosok yang menyebalkan itu memiliki sisi lain yang ia pendam, jika dibandingkan Arya yang memiliki support seorang Ibu secara penuh. Berbeda dengan Harun yang segala materinya terpenuhi namun kekurangan kasih saying.

Setelah bersahabat dengan Arya, Ia sering pula dipertemukan dengan Bu Maliah yang selalu perhatian pada mereka. Dalam benak Harun terbersit rasa bersalah karena pernah mengejek dan merendahkan Arya dan Ibunya. Tanpa terbayang olehnya saat ini Ia justru merasa iri pada kedekatan Arya dan Ibunya Maliah. Harun menjadi lebih terbuka dengan orang lain dan peduli terhadap sekelilingnya. Arya mengajarkan arti sahabat yang sesungguhnya.
Masukan Token untuk Membuka setiap Chapter Novel Inspiratif | Maliah . Dapatkan Token

Epilog Chapter 5
Melalui persahabatan yang bervariasi, Arya belajar tentang keberagaman dan kompleksitas manusia. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita dan perjuangan masing-masing. Kejujuran serta keberanian adalah kunci untuk menghadapi dunia yang penuh warna ini.

Dalam setiap langkahnya, Arya menemukan kedewasaan dan kepahaman yang lebih dalam tentang dirinya sendiri dan tentang dunia di sekitarnya.

Sahabat bukan mereka yang mendukungmu melakukan keegoisan namun mereka yang mengingatkan kekeliruanmu.