Arti Sahabat | Maliah-Novel Inspiratif
Table of Contents
.png)
Di bawah langit senja yang merona, bayangan seorang ayah terpatri dalam memori
anak laki-lakinya. langkah-langkahnya terasa berat karena beban kehilangan
yang terlalu besar untuk dipikulnya sendiri. Arya selalu merindukan kehadiran
yang telah tiada, namun kebaikan dan kasih sayangnya terus hidup dalam
jiwanya.
Setiap matahari terbenam membawa kenangan manis tentang pelukan hangat sang
ayah, tentang senyumnya yang menghibur, dan tentang kata-kata bijaknya yang
menjadi pegangan dalam setiap langkah. Meskipun fisiknya telah berpisah,
kehadirannya terus membimbing dan memberikan kekuatan di setiap langkah hidup
mereka.
Dalam doa dan kenangan, sang ayah tetap hadir, merangkul hati anak
laki-lakinya dengan cinta abadi yang tak terpadamkan. Hidupnya yang dipenuhi
oleh bayangan kesedihan yang tak terucap.
Matanya yang bulat memancarkan kebingungan dan kehilangan, mencari-cari
kehadiran sosok ayah yang kini tak lagi hadir untuk memberikan arahan dan
kasih sayang. Namun, meski masih muda,
Kini Arya sudah remaja SMA kelas 3 dengan langkah tegar dan hati yang penuh
syukur, Arya melangkah ke masa depannya yang cerah, sambil membawa serta
kenangan manis tentang sepatu bekas pemberian seseorang yang telah mengubah
hidupnya.
Meski terkadang cobaan datang dari arah yang tak terduga, namun semangatnya
tetap berkobar di dalam dadanya.
Arya dalam usianya yang masih belia terkadang ingin bermain lepas seperti
teman-temannya tanpa beban.
Pernah ia pun merasa putus asa karena beberapa minggu ini Ia mendapatkan
ejekan dari teman sekelasnya karena sepatu yang Arya pakai sudah usang bahkan
bolong di bagian ujung jempolnya.
“Ha..haa...haaa sepatu Arya bolong….” teriak Harun pada teman sekelasnya yang
lain sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Dalam remang usia yang masih berseri, Arya kadang merindukan lepasnya bermain,
mengikuti jejak langkah teman-temannya tanpa beban yang mengikat. Namun, di
tengah kerinduan itu, terkadang terselip keluh kesah yang menghunjam di
sanubarinya ketika ejekan teman sekelasnya menyerang, menggoreskan luka yang
tak terlihat. Rasa malu dan kekecewaan pun menghiasi sudut hatinya ketika
melihat sepatunya yang usang, bolong di ujung jempolnya, menjadi sasaran
cemoohan.
“Ha..haa...haaa.” tawa Harun merayap mengiringi ejekan yang dilemparkan pada
sepatu Arya, menambah bobot beban di pundaknya. Dengan wajah yang tenang dan
cuek, Arya memilih untuk mengabaikan ejekan tersebut. Seperti air yang
mengalir melalui batu-batu, ia membiarkan kata-kata pedas itu tak menghentikan
langkahnya. Di balik gugup yang merayap, Arya menjaga hatinya tetap utuh,
merangkul keyakinan bahwa nilai sejati tak terukur oleh bahan, melainkan oleh
kebaikan dan ketulusan jiwa yang terpancar darinya.
Kini, dihadapkan pada ejekan dan cibiran dari teman-temannya, ia menyadari
bahwa keberanian sejati bukanlah tentang menunjukkan kekuatan fisik, melainkan
tentang menjaga keberanian dan harga dirinya di tengah tekanan dari lingkungan
sekitarnya.
Lanjut Baca
Meskipun dipandang sebelah mata karena penampilan dan latar belakangnya, Arya
tidak pernah menyerah pada keadaan.
Dalam setiap ejekan dan cemooh yang menghampirinya, ia menjadikannya sebagai
batu loncatan untuk semakin tegar dan tangguh. Namun, di balik kekecewaannya,
masih terdapat api keberanian dan tekad yang membara di dalam dirinya.
Dengan langkah yang mantap, meskipun hatinya bergetar oleh peristiwa yang baru
saja terjadi, Arya tetap melangkah maju. Ia menyadari bahwa dalam dunia yang
keras ini, ia harus bertahan dan memperjuangkan impian-impian kecilnya.
Pakaian sederhana yang menjadi lambang kesederhanaan hidupnya mengangkat
kepala dengan bangga. Baginya, status yatim bukanlah penghalang untuk meraih
impian dan cita-citanya. Ia percaya bahwa setiap langkah kecil yang diambilnya
adalah langkah menuju keberhasilan, meskipun diwarnai oleh cemoohan dan ejekan
dari sekitarnya.
Kini, di tengah cemoohan dan ejekan yang menghujani dirinya, Arya tetap
berdiri tegar seperti pohon yang kokoh di tengah badai. Ia tahu bahwa cahaya
keberanian dan semangatnya akan selalu membimbingnya melewati gelapnya malam,
menuju fajar yang cerah di ufuk yang jauh.
Dalam setiap detik yang berlalu, Arya harus menanggung beban yang bertambah
saat ibunya, Maliah, terbaring sakit dan tak mampu lagi berdagang. Dalam
keputusasaan itu, Arya dengan berani mencoba menggantikan peran ibunya,
membawa dagangan kecilnya ke sekolah. Namun, di balik keberanian itu,
terbersit rasa malu dan gugup yang menyusup di dadanya. Baginya, langkah ini
adalah langkah besar yang diambil dengan perasaan campur aduk antara
keberanian dan keraguan. Namun, demi keberlangsungan hidup keluarganya, Arya
memilih untuk menghadapi tantangan itu dengan penuh tekad meski dalam
ketidakpastian yang melingkupi.
Dengan segala keraguan yang menghampirinya, Arya menyadari bahwa langkah ini
adalah awal dari perjalanan menuju sebuah harapan baru bagi dirinya dan
keluarganya. Meskipun langkah itu diawali dengan rasa gugup dan kebingungan,
namun di dalamnya tersemat benih keberanian yang siap tumbuh menjadi pohon
kesuksesan. Dengan tekad yang bulat, Arya memilih untuk melangkah maju,
memandang masa depan dengan penuh harapan, sambil menggenggam erat mimpi untuk
memberikan kehidupan yang lebih baik bagi ibunya dan dirinya sendiri. Langkah
awal ini, baginya, adalah tonggak berharga yang akan membuka jalan menuju
perubahan yang lebih baik dalam hidup mereka.
Lagi-lagi suara miring cemoohan dari harun terdengar menyesakkan.
Si tukang jualan ini punya mimpi ingin beli sepaatu baru ya.
"Hahaha.... ujarnya sambil tertawa dan menepuk bahu Arya."
Saat itu Arya hanya diam.
Meskipun suara miring dan cemoohan dari Harun menyesakkan, Arya memilih untuk
tetap diam. Dalam keheningan yang menyelimuti, ia memilih untuk memendam
perasaannya sendiri, tanpa membiarkan kata-kata pedas itu merusak tekadnya.
Meskipun hatinya mungkin terluka, namun di dalamnya terdapat api kebulatan
tekad yang semakin berkobar. Dalam diamnya, Arya memeluk impiannya untuk bisa
memberikan yang terbaik bagi ibunya, meski harus menanggung cemoohan dan
ejekan dari teman sekelasnya. Diamnya Arya bukanlah kekalahan, melainkan bukti
dari kekuatan batin yang mengalir dalam dirinya, siap untuk menghadapi segala
rintangan di masa depan.
Arya berdagang hanya saat jam istirahat, dengan menata kue kue itu di meja
dalam kelasnya. Biasanya teman yang ingin jajan kue kuenya berdatangan ke
kelas Arya.
Dengan cermat dan penuh semangat, Arya menjalankan bisnis kecilnya hanya pada
waktu istirahat di sekolah, menyusun berbagai macam kue di atas meja yang
diposisikan di tengah-tengah ruang kelas. Suasana kelas yang semula sepi
berubah menjadi ramai saat teman-temannya mulai berdatangan untuk membeli
kue-kue yang ditawarkan oleh Arya. Di dalam keriuhan yang tercipta, aroma
manis kue dan tawa ceria teman-teman bergabung menjadi satu, mengisi ruangan
dengan kehangatan dan keceriaan. Meskipun terlibat dalam kegiatan dagang, Arya
tetap menjaga kepatuhan pada aturan sekolah dan konsentrasi pada pelajaran,
sambil dengan penuh keramahan melayani setiap pembeli yang datang.
Harun yang sepertinya tidak senang bergumam dengan teman lainnya. “heran, kok
kalian mau-maunya makan makanan Si Arya.” Ia pun berbisik.
“Hey kalian tak takut ketularan penyakit Ibunya, Ibunya kan sakit parah sudah
sebulan ini.” Dengan nada gumaman yang penuh kebencian, Harun menyampaikan
ketidakpuasannya kepada teman-temannya dengan sepasang mata yang
mengisyaratkan ketidaksenangannya.
"Apa sih enaknya kue itu," desisnya dengan suara yang menandakan ketidaksukaan
yang mendalam. Kemudian, dengan gerakan bibir yang berbisik, ia menyampaikan
keraguan tersembunyi.
"Hem, cara membuatnya juga tak terlalu bersih," bisiknya sambil menundukkan
kepala. Suaranya meluap dengan kegelisahan, membenamkan mereka dalam
keheningan yang membeku. Lalu, dengan kata-kata yang terdengar seolah berdesir
di antara nafasnya, Harun memperingatkan teman-temannya dengan kekhawatiran
yang terpendam.
"Hey, kalian tidak takut tertular penyakit yang diderita Ibunya?" Bisiknya,
menggugah kesadaran teman-temannya akan risiko yang mungkin timbul, menggiring
mereka pada sebuah perenungan yang mendalam di tengah gelombang cemoohan yang
menghampiri Arya.
Dengan rasa ingin tahu yang memuncak, teman-teman Arya yang lain turut mencari
tahu tentang keadaan Ibunya. Namun, rumor yang tersebar itu juga terdengar
oleh Arya, membingungkan hatinya dengan perasaan sedih dan amarah yang
meluap-luap terhadap Harun yang begitu tega menyuarakan kata-kata tersebut.
Dalam benaknya, gambaran Ibunya yang sakit membuatnya merasa terpukul,
sementara ejekan-ejekan yang dilemparkan oleh Harun semakin memperkeruh
suasana hatinya.
"Ibunya sakit-sakitan, mungkin saja di dagangannya banyak bakteri yang bisa
menularkan penyakit," gumam Harun dengan rasa takut yang menyelinap.
Perasaan itu semakin membesar ketika ia menyadari bahwa candaan itu tidak
sekadar lelucon biasa, melainkan cemoohan yang mengarah pada upaya untuk
menghentikan pembelian jajanan yang ia buat. Rasanya, setiap kata yang
dilontarkan oleh Harun menjadi pukulan yang meruntuhkan semangatnya untuk
terus berusaha.
Dalam keriuhan yang memenuhi ruangan, rasa ingin tahu yang membara mewarnai
wajah teman-teman Arya yang lain, menimbulkan gelombang tanya yang mengalir
deras. Namun, di antara riuh rendah itu, Arya meratapi kata-kata yang
terlontar dari mulut Harun dengan perasaan campuran antara kesedihan dan
kemarahan yang menghujam ke dalam hatinya. Dalam relung hatinya, bayangan
Ibunya yang sakit memunculkan riak-riak kegelisahan yang tak terbendung,
sementara celaan-celaan yang dihembuskan oleh Harun semakin menghimpitnya
dengan tekanan yang tak terelakkan.
Ibunya sakit-sakitan, mungkin saja di dagangannya banyak bakteri yang bisa
menularkan penyakit," bisikan Arya menyelinap dengan nada gelisah yang
menyergap. Dalam setiap kata yang diucapkannya, terpantul rasa takut yang
menghantui pikirannya. Namun, yang lebih menggoncangkan, adalah kesadaran
bahwa lelucon itu tak sekadar semata-mata humor, melainkan sebuah serangan
yang mengancam kelangsungan usaha kecilnya. Rasanya, setiap serpihan kata yang
terucap dari bibir Harun menjadi belati tajam yang menusuk hatinya,
meruntuhkan keberanian Arya untuk terus berjuang.
Dalam pusaran emosi yang semakin memuncak, kemarahan Arya meledak begitu ia
menyadari bahwa Harun telah dengan semena-mena menyebut-nyebut nama Ibunya
yang sedang sakit. Api kemarahan membakar dalam dirinya, memancarkan sinar
kemarahan yang menggelegak di matanya.
Betapa kejamnya ucapan Harun, menyentuh luka yang belum sembuh dalam hati
Arya. Rasa sakit dan kecewa menyatu dalam satu gelombang yang menghantam,
membuatnya merasa dihina dan diinjak-injak harga dirinya. Dalam detik-detik
yang memilukan itu, Arya merasakan semangat perlawanan membara dalam dirinya,
menuntut keadilan atas nama ibunya yang tak berdaya.
Dengan langkah-langkah mantap, Arya memutuskan untuk menghadapi Harun, bukan
sekadar sebagai balas dendam, tetapi sebagai pernyataan bahwa tidak ada yang
bisa merendahkan martabatnya dan menghina nama baik Ibunya tanpa
pertanggungjawaban.
Dengan emosi yang meluap-luap, Arya tak bisa lagi menahan diri. Dia menatap
tajam ke arah Harun, lalu dengan suara yang penuh dengan rasa tak terima, dia
berkata, "Apa maksudmu menyebarkan berita itu pada yang lain?"
Dalam nada suaranya terdengar kekecewaan yang mendalam, dan di matanya
terpancar kebingungan serta kekesalan atas tindakan Harun yang dianggapnya
tidak bermoral. Dalam kata-katanya, tersirat keputusasaan karena perasaan
tidak adil yang dirasakan Arya akibat dari perbuatan Harun yang telah
menyebarluaskan informasi pribadi tersebut tanpa rasa hormat.
Dengan tatapan yang penuh dengan keangkuhan, Harun menjawab pertanyaan Arya
tanpa rasa penyesalan. "Ibumu memang sedang sakit kan, apa salahku mengatakan
itu?" ujarnya dengan nada yang merendahkan.
Kata-katanya seperti cambukan yang menusuk hati Arya lebih dalam lagi.
Keangkuhan yang terpancar dari matanya membuat Arya semakin merasa terhina dan
terancam. Baginya, ucapan Harun bukan hanya sekadar bentuk keberanian, tetapi
sebuah serangan yang tak termaafkan terhadap martabatnya dan keadaan Ibunya
yang sedang sakit.
Dalam diamnya, Arya mencari kekuatan untuk menanggapi tantangan yang
dilemparkan oleh Harun, sambil merencanakan langkah-langkah selanjutnya untuk
menegakkan kebenaran dan melindungi harga dirinya serta keluarganya.
Dengan nada yang tinggi dan penuh emosi, Arya menjawab, "Ya, benar Ibuku
memang sedang sakit." Tatapannya menusuk tajam ke arah Harun, memancarkan
kekecewaan yang mendalam akan sikap acuhnya.
Wajah Harun yang masih cengar-cengir tanpa kesadaran akan dampak dari
kata-katanya semakin menambah bara kemarahan dalam diri Arya. Bahkan, dari
ekspresi wajahnya, terlihat jelas bahwa Harun bahkan ingin melanjutkan debat
dengan Arya, tanpa merasa bersalah atas tindakannya yang telah menyakiti
perasaan temannya itu.
Dalam kebisingan yang memenuhi ruangan, pertarungan tidak hanya terjadi di
antara kata-kata, tetapi juga dalam pertempuran batin Arya yang harus
mempertahankan harga dirinya dan melawan sikap tidak bertanggung jawab yang
ditunjukkan oleh Harun.
Dengan suara yang tegas dan penuh dengan keberanian, Arya kembali menegaskan
pada Harun, "Ibuku memang sedang sakit, tapi tidak menjijikkan dan tidak
memiliki penyakit menular seperti yang kau sebarkan."
Kata-katanya terdengar sebagai bentuk pembelaan yang kuat terhadap kehormatan
Ibunya dan juga dirinya sendiri. Dalam kejelasan suaranya, tergambar sikap
teguh Arya dalam menentang segala bentuk fitnah dan penyebaran informasi yang
tidak benar.
Dalam wajahnya yang dipenuhi dengan keberanian, Arya menghadapi Harun dengan
sikap yang teguh, siap untuk menghadapi konfrontasi apapun yang mungkin timbul
sebagai hasil dari keberaniannya untuk membela kebenaran.
“Heleh… heleh…. Miskin aja blagu kau… sini kalua berani lawan aku!” Seruan
Harun menantang keberanian Arya. “Dasar kau tak tahu diri, menyebarkan
penyakit dari makanan yang ibumu buat!” ucapannya kini menambah emosi Arya
meluap
“Plak……” tak tunggu lama Harun mengayunkan tamparan keras pada pipi Arya.
“kurang ajar kau Harun.” Arya berteriak.
“Kau memang tak punya hati” Arya pun menangkis tamparan kedua yang akan
mengarah padanya. Arya memegang erat pergelangan tangan kanan Harun dan
berkata. “ kau boleh mengejekku, tapi tak ku izinkan kau mencemooh Ibuku.”
Sambil gemetar, wajah yang memerah, hati yang tak kunjung tenang Arya gelap
mata dan membalas tamparan Harun dengan tinjunya yang mengarah pada wajah
Harun.
Seketika ruangan gaduh itu berubah hening dan tegang, “Awas kau nanti Arya.”
Ancam Harun sambil mengerang kesakitan karena wajahnya dihantam tinju kepalan
tangan penuh. Ia melangkah menjauhi Arya sambil menumpahkan keranjang dagangan
yang dibawa Arya. Sontak semua temannya memandangi mereka berdua yang beradu
mulut itu.
Teman yang menyaksikan pemandangan itu langsung meminta pertolongan guru dan
wali kelasnya hingga akhirnya gurunya datang menghampiri mereka.
“sudah…sudah…. Semuanya bubar” seru Pa Guru membubarkan kerumunan yang tadinya
mengelilingi Arya dan Harung, layaknya tontonan.
Riuh gemuruh gumaman teman-teman memudar dan kini tinggallah dirinya dan harun
ditemani dua orang guru Pria menggiringnya ke ruangan Bimbingan Konseling.
Seketika Arya sadar telah terpancing emosi dan melibatkan dirinya dalam
masalah kelit, “Astagfirullohadadzim….. “ istigfarnya menyadarkan hatinya tak
teguh lagi, ia tak tahan dengan ucapan Harun, benteng pertahanan dalam dirinya
kini hancur akibat temannya itu.
Dalam ruang bimbingan Ia dihadapkan pada permasalahan yang bahkan mungkin
sebagai korban ejekan sekaligus fisik yang juga terkena tamparan keras Harun.
Namun yang Arya sesalkan saat ini adalah bahwa Ia tak bisa menahan emosinya,
Ia sadar jika Ibunya tahu bahwa dirinya terlibat perkelahian itu, Bu Maliah
akan kecewa dan sedih. Kini ia bingung jika harus menghadapi kekecewaan
ibunnya yang justru sedang sakit di rumah.
Arya hanya berkata jujur pada Guru yang mengintrogasinya, tanpa menutupi dan
mengakui kesalahannya yang tak mampu menahan emosinya saat Harun mngjek Ibunya
dan menampar pipinya.
Namun Harun berkelit merasa Ia yang paling tersakiti saat ini “ Pak saya kena
tinju dia.” Sambil telunjuknya menuju arah Arya yang duduk di dekat Bu Ema
wali kelasnya. “Arya meninju saya Pak, sampai hidung saya berdarah.” Harun
masih dengan angkuhnya tidak menerima dan tidak mau mengakui kesalahannya.
“Denga rya anak-anak… berkelahi itu bukan Solusi menyelesaikan masalah, main
fisik hanya kan merugikan semua orang!” Nasihat Bu Ema menyadarkan Arya yang
kini duduk diam merenungkan kealahannya. Ia menyesali seandainya aku tak
terpancing emosi tadi, mungkin masalahnya tak serunyam sekarang.
“Baik kini Bapak dan wali kelasmu akan memnaggil orang tua kalian ya, untuk
menyelesaikan semua permasalahan ini.” Kalimat dari Pa Guru tersebut membuat
hati Arya bergetar dan ketar-ketir karena Ia merasa akan membuat Ibu kecewa
dan sedih.
Sementara ekspresi berbeda ditunjukkan oleh Harun yang menyeringai senyum dan
merasa Ia akan mendapatkan pembelaan yang baik oleh orang tuanya.
Harun adalah anak orang berada bahkan Bapaknya seorang perwira di kepolisian,
tentu saja Harun merasa memiliki tameng dalam hidupnya Ia tidak pernah merasa
bersalah.
“Mari untuk sekarang kalian boleh pulang dan mohon sampaikan surat panggilan
orang tua ini kelapa orang tua masing-masing.” Ucap Bu Ema pada Arya dan
Harun.
Mereka berdua pun keluar ruangan dengan ekspresi yang berbeda diantara
keduanya.
Harun masih saja mengoceh dengan ancaman-ancaman yang keluar dari mulutnya
yang angkuh.
Saat bel pulang berbunyi Arya mulai gelisah untuk pulang dan surat panggilan
itu kini ada digenggamannya.
Sesampainya di rumah, Arya mengucap salam dengan segala Lelah yang ia lalui
hari ini di sekolah.
Assalamu’alaikum……Arya pulang Bu.” Sapa Arya pada Ibunya yang duduk di teras
sambil tersenyum memandangi arya.
“waalaikumssalam wr wb,,,,,allhamdulillah sudah pulang.” Jawab Bu Maliah
sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan putranya.
“Ibu sudah baikan Bu?” tanya Arya seraya menyembunyikan perasaan gugupnya pada
sang Ibu.
Arya tak mau menambah beban pikiran ibunya dengan menunjukkan surat panggilan
itu, sehingga ia menyembunyikan surat tersebut di dalam bukunya yang kini
tersimpan rapi dalam tas gendong berwarna biru using miliknya.
Setelah menyapa Ibunya kini ia menuju kamar dan menyimpan peralatan
sekolahnya, Arya Pun melanjutkan aktifitas lainnya.
Ibu Maliah yang masih duduk di teras memanggilnya.” Nak,,,, nak,,,,” panggilan
itu ditujukan kepada Arya.
“ya Bu,,,, ada apa Bu?” Arya yang sedang mencuci peralatan dan keranjang kue
itu datang menemui Ibunya.
“Sini Nak, tolong ambilkan ibu minum the hangat ya!” pinta Bu Maliah saat ini.
“Baik Bu..” jawab Arya singkat tanpa menatap wajah Ibunya, ia takut ibunya
menyadari keresahannya.
Maliah yang mengamati tingkah laku Arya menyadari ada sesuatu yang
disembunyikan Arya darinya tak langsung bertanya, namun ia mencoba perlahan
mencairkan suasana dengan mengajak arya bercengkrama dengan penuh kasih
saying, Ia menceritakan kisa Ayahnya dulu yang masih ia ingat saat Arya masih
kecil.
Selepas Ibu merasa Arya sudah tenang, barulah ia bertanya padanya. “Nak, ada
apa ibu perhatikan ada sesuatu yang ingin kau sampaikan.” Tatapan Ibu Maliah
yang penuh rasa penasaran menuju pada Arya yang kebingungan mau memulai dari
mana.
“Ceritakanlah… apapun yang kamu rasakan, ada apa Nak?” dengan perlahan suara
Bu Maliah yang lembut menenangkan hati Arya.
“i…ini… Bu” Arya dengan ragu memberika surat panggilan orang tua kepada Ibu.
“ada surat panggilan orang tua Bu, Maafkan Aku Bu,, maafkan Arya Bu…….” Arya
dengan mata yang beerkaca-kaca mulai menjelaskan kejadian tadi siang di
sekolah.
“arya Khilaf Bu, Arya gelap mata, Arya yang salah tak bisa menahan emosi yang
meluap… Bu maafkan Arya Bu….!” Arya meraih tangan Ibunya dan menciumnya lama.
Air matanya tak mampu ia bending lagi saat ibu bertanya padanya
“Nak,,,, Ibu memang kecewa padamu, seharusnya kau teguh dengan hatimu, tak
perlu kau hiraukan ocehan temanmu yang mengejek itu… biarkanlah…!”
Maliah menepuk-nepuk bahu Arya yang kini bersimpuh dipangguannya.”Ibu
mamafkanmu, besok kita ke sekolah ya, Ibu akan temani kamu bertemu gurumu
untuk menjelaskan semuanya, kita yang akan minta maaf pada keluarganya Harun
dan pihak sekolah ya, jangan khawatir, Ibu tidak marah Nak” ucapan Bu Maliah
menutup perbincangannya sore itu.
Arya mengingat pesan Maliah yang dengan penuh cinta kasih seorang Ibu, bahwa
tak perlu kau risau dengan segala keadaan saat ini Tuhan kan membawamu dalam
kebahagiaan yang sesungguhnya kelak. Anak sekecil itu dipaksa oleh keadaan
untuk mandiri menyadari kesulitan dan tantangannya sendiri.
Malam pun turun, menyelimuti desa dengan gemuruh diam yang memayungi kehidupan
Arya. Di balik sinar rembulan yang berkilauan, Arya duduk sendiri di sudut
kamarnya. Dalam keheningan, ia mengingat pesan-pesan hangat yang disampaikan
oleh Maliah, sang Ibu tercinta yang kini masih sakit.
"Percayalah, Arya," bisik hati Arya, merangkai kata-kata yang pernah diucapkan
oleh sang Ibu. "Tuhan akan membawamu dalam kebahagiaan yang sesungguhnya
kelak."
Bel sekolah mulai berbunyi, kini Arya ditemani Bu Maliah melangkah menuju
ruang Kepala Sekolah, dari arah lain terlihat Bapak berbaju loreng TNI bersama
Harun pun sudah hadir, semua yang ada di ruangan itu saling menyapa. Namun
tatapan Arya menunduk saat ini karena dia tidak tahu harus berbuat apa di
hadapan para orang dewasa itu.
“Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang saat ini hadir, memenuhi undangan
kami, mohon maaf kami mengundang Bapak dan Ibu kemari adalah ingin meluruskan
kesalahfahaman antara putra putra kita, Harun dan Arya yang kemarin terlibat
kesalahfahaman.” Bu Ema mengawali pembicaraan kami saat itu, kemudian guru BK
menghadirkan saksi-saksi dari beberapa teman yang menyaksikan kejadian kemarin
itu.
Ketegangan yang dirasakan oleh Arya pecah saat Ayahnya Harun mencoba menengahi
pembicaraan dalam musyawarah tersebut “Bapak, Ibu guru saya sebagai orang tua
Harun meminta maaf kepada sekolah dan terutama keluarga Arya yang sudah sangan
dirugikan saat ini oleh anak saya, ketidak tahuan anak saya adalah bukti
kelalaian saya sebagai orang tua dalam mendidik akhlaknya. Saya memohon maaf
kepada Ibu Maliah dan Arya atas tindakan Harun ya Bu!” Ayahnya Harun
mengulurkan salam kepada Arya dan Bu Maliah.
“Tidak Pak, semua kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahan Bpak atau putra
bapak, anak saya juga sama-sama tidak dapat menahan emosinya.” Bu Maliah
menerima ucapan maaf dari ayahnya Harun dengan Ikhlas. Akhirnya kedua belah
pihak pun berdamai.
Keluarga yang berdamai menyepakati bahwa kedua anak mereka yang terlibat
perkelahian itu mendapatkan sanksi sosial yakni setiap pagi mereka harus
bersalaman jika bertemu, dan secara bersamaan akan mendapatkan tugas
membersihkan lapangan volley dan basket untuk beberapa bulan kedepan setelah
pulang sekolah.
Hari-hari berlalu Arya dan Harun terpaksa menjalankan tugasnya. Setiap hari
mereka harus bersalaman di depan ruang guru disaksikan teman-temannya yang
lain. Ada rasa canggung di hati Arya dan juga Harun, namunseiring berjalnnya
waktu Harun dan Arya mulai terbiasa.
Setiap pulang sekolah Arya dan Harun membersihkan lapang volley dan basket,
atau hanya sekedar menata bola-bola yang masih berserakan di lapangan,
sesekali Arya pun mulai membuka harinya berteman dengan Harun yang dulu
menyakitinya, Harun dengan karakter sombongnya merasa Ia pun kini tak memiliki
teman dekat lagi, semenjak Ayahnya mendisiplinkannya tanpa fasilitas
berlebihan kini Harun menyadari teman-temannya menjauhi dirinya karena sifat
Harun sebenarnya menjengkelkan dan ingin menang sendiri.
Harun sadar temannya yang dulu mendekatinya hanya merasa tidak nyaman karena
sering ia traktir makan gratis. Namun saat ini ia tak pernah lagi mentraktir
temannya sehingga mereka satu per satu menjauhinya perlahan.
Sore ini Harun badannya panas dan gemetar sehingga tak mampu memegang sapu
untuk membersihkan lapangan. Arya yang sedang menata bola-bola melihatnya
kesakitan, lalu ia menghampiri dengan penuh kecemasan.
“Hey,,,, Har kenapa Kau…?” tanya Arya padanya saat ia mulai terkulai lemas.
“aku pusing dan gemetar….” Benar saja badan Harun kini panas dan gemetar.
Arya langsung membantunya berteduh dan pergi ke ruang UKS. Namun naas semua
ruangan sudah ditutup, tidak ada petugas UKS disana, Arya membopong Harun ke
kursi ruang lobi sekolah. Arya mencari bantuan pada gurunya, “ Bu.. Bu… Harun
sakit Bu, Sepertinya lemas sekali bu.” Dengan sigap Guru menghubungi
keluarganya dan Harun Pun dijemput mobil oleh sopirnya.
Selepas hari itu Harun dirawat di Rumah Sakit karena terkena penyakit tifus
yang sudah akut, Hanya asisten rumah tangganya dan Arya yang selalu
menemaninya di RS. Harun tak lagi canggung padanya, kini Harun dan Arya
menjadi teman bahkan sahabat baik, Harun menyadari ketulusan Arya padanya
bukan memandang dari apa yang Harun miliki, tetapi dari apa yang mereka lalui
bersama.
Saat Harun sakit ayahnya sedang tugas di luar kota sedangkan Ibunya sibuk
dengan kegiatan-kegiatannya sebagai calon anggota dewan, maka hanya sesekali
saat malam mereka bertemu, dan Siang hari ditemani Asisten rumah tangganya
saja. Namun kini Ia punya Arya sebagai teman sejati yang ia temukan melalui
proses yang rumit.
Empat hari berlalu setelah Harun sembuh dan dinyatakan boleh pulang oleh
dokter, Harun meminta Arya mengajaknya main ke rumah Arya.
“Ya,, rumahmu diman sih?” tanya Harun
“dekat sekolah kita Har, masa kau takt ahu? Bukankan dulu kau tahu ibuku sakit
karna kau tau rumahku dekat sekolah?” sambil tersenyum meledek Harun yang dulu
pernak mengejeknya itu.
“ha..ha… ya aku tau daerahnya dekat sekolah tapi sebenarnya aku tak paham yang
mana rumahmu, aku tau ibumu sakit dari teman-teman yang lain.” Harun merasa
malu pada dirinya sendiri yang dulu pernah mengejek arya namun kini teman yang
paling dekat dengannya justru Arya yang begitu tulus.
“wah…wah….parah kau Har…” sambil tertawa lepas mereka bercerita panjang
tentang pengalaman yang mereka alami saat itu. Kini Arya dan Harun mengetahui
arti sahabat yang sesungguhnya dari apa yang mereka alami bersama.
Ternyata Harun sosok yang menyebalkan itu memiliki sisi lain yang ia pendam,
jika dibandingkan Arya yang memiliki support seorang Ibu secara penuh. Berbeda
dengan Harun yang segala materinya terpenuhi namun kekurangan kasih saying.
Setelah bersahabat dengan Arya, Ia sering pula dipertemukan dengan Bu Maliah
yang selalu perhatian pada mereka. Dalam benak Harun terbersit rasa bersalah
karena pernah mengejek dan merendahkan Arya dan Ibunya. Tanpa terbayang
olehnya saat ini Ia justru merasa iri pada kedekatan Arya dan Ibunya Maliah.
Harun menjadi lebih terbuka dengan orang lain dan peduli terhadap
sekelilingnya. Arya mengajarkan arti sahabat yang sesungguhnya.
Masukan Token untuk Membuka setiap Chapter Novel Inspiratif | Maliah . Dapatkan Token
Epilog Chapter 5
Melalui persahabatan yang bervariasi, Arya belajar tentang keberagaman dan
kompleksitas manusia. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita dan
perjuangan masing-masing. Kejujuran serta keberanian adalah kunci untuk
menghadapi dunia yang penuh warna ini.
Dalam setiap langkahnya, Arya menemukan kedewasaan dan kepahaman yang lebih
dalam tentang dirinya sendiri dan tentang dunia di sekitarnya.
Sahabat bukan mereka yang mendukungmu melakukan keegoisan namun mereka yang
mengingatkan kekeliruanmu.