Cermin Asa | Maliah-Novel Inspiratif

Table of Contents
Chapter 4 | Maliah-Novel Inspiratif

Epilog Chapter 4
Kita tidak selalu bisa memiliki apa yang dimiliki orang lain memiliki arti bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain. kita harus belajar untuk bersyukur atas apa yang telah dimiliki, untuk menikmati setiap momen yang dibagikan, dan untuk merayakan keunikan dan kebahagiaan dalam kehidupan sendiri. Kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta benda atau pencapaian materi, tetapi dalam kedalaman hubungan dan makna yang kita temukan di dalamnya.

“Kue… kue… kue….” Seruan Bu Maliah pagi ini menghiasi sudut kampung yang riuh.

“Kuenya Bu…..” Maliah menawarkan dagangannya yang di bawanya menggunakan keranjang kue berwarna hijau itu kepada Bu Dian dan lainnya yang sedang duduk santai depan rumahnya.

“Eh… Bu Maliah sekarang jualan ?” rupanya Bu Dian baru tahu bahwa Bu Maliah kini berjuan kue keliling.

Sambil tersenyum ramah Maliah menjawabnya.”ya Bu, sudah dua hari ini saya mencoba berjualan kue-kue dan ada juga gorengan Bu.”

“coba saya lihat Bu, ada apa saja?” Bu Dian dengan antusias mengajak Maliah mampir duduk di teras rumahnya.

“Nih Bu, saya jual odading, dadar gulung, bakwan dan gorengan tempe.” Sambil duduk depan teras Bu Dian, Ia menjelaskan aneka kue dan gorengan yang ia jajakkan.

“Emmm…. Aromanya enak nih Bu.” Sahut Bu Dian sambil mengambil sebuah odading dan mencium aromanya. “Saya beli odadingnya lima, bakwannya tiga dan dadar gulungnya dua aja ya Bu.” Bu Dian pun Mengambil uang di sakunya.

“jadi berapa semuanya ya?” tanyanya pada Maliah.

“semuanya jadi lima ribu rupiah.” Jawab Maliah dengan raut wajah penuh haru dan bahagia karena Bu Dian adalah pelanggan pertama yang membeli dagangannya hari ini.

Perbincangan pedagang dan pembeli itu ditutup dengan ucapan tulus terima kasih yang terucap dari Maliah yang melangkah kembali mencoba peruntungan di tempat lainnya. “Permisi ya Bu…terima kasih.” Ujar Maliah seraya berpamitan pada Bu Dian dan melanjutkan langkahnya. Hari itu ia lalui dengan senyum penuh harap.

Dengan suara gemuruh yang menggetarkan udara, Bu Maliah melantunkan panggilan yang merdu: "Kue... kue... kue..." Serunya terbawa angin, menciptakan irama yang mengundang bagi para penjelajah rasa. Dalam keranjang kecilnya, tertata rapi kue dadar gulung yang menggoda dengan keharuman pandan dan gurihnya isi kelapa. Tak kalah menggiurkan, gorengan yang berkilauan keemasan menanti untuk dijelajahi oleh lidah yang haus akan cita rasa. Sebuah pesta di alam semesta rasa, disuguhkan dengan cinta oleh tangan terampil sang penjual kue.

Maliah tak pernah menyerah. Ia menyulap dapur kecilnya menjadi dapur berjalan, menjajakan masakan lezat yang dipenuhi dengan cinta dan harapan. Kini Maliah tak lagi pergi kel ladang atau pun sawah. Ia mencoba peruntungan lain dengan berjualan makanan ringan dan kue-kue basah yang dijajakan di warung-warung dan kantin sekolah.

Dengan tekad yang tak tergoyahkan, Maliah melangkah di bawah terik matahari, mencari nafkah untuk anaknya, Arya, yang masih menapaki jalan pendidikan di bangku SMP. Setiap langkahnya dipenuhi oleh doa dan harapan agar usahanya menjadi bekal yang cukup bagi masa depan gemilang sang anak. Dalam kegigihannya, Maliah mengukir jejak-jejak keberanian dan keperdulian, menjadi pelita bagi perjalanan hidup yang dijalani Arya.

Arya terkadang turut serta membantu Ibunya dengan setia, mengaduk adonan kue odading. Bersama-sama, mereka merajut kehangatan dalam setiap sentuhan, menyulam kebersamaan di antara bau harum rempah dan ragam cita rasa.

Namun, terkadang ketika lelah menghampiri Arya, dia hanya duduk di dekat ibunya, mata yang berat mulai terpejam dalam kelelahan, hingga akhirnya tertidur di kursi panjang yang setia menemani di ruang dapur. Dalam momen-momen seperti itu, kebersamaan mereka menjadi tanda kasih sayang yang tak terucapkan namun terasa dalam setiap napas yang mereka hembuskan.

Tahun ini dengan suasana sekolah yang baru Arya genap berusia 13 tahun dan baru memasuki SMP, ia terdiam ketika melihat teman-temannya asyik membeli jajan di kantin sekolah. Hatinya terasa berat karena tidak bisa ikut serta dalam kegiatan yang biasa dilakukan oleh teman-temannya. Namun, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Sementara teman-temannya berjalan ceria dengan kudapan di tangan, Arya duduk di bangku sekolahnya dengan perasaan campur aduk. Dia merasa sedih dan kecewa pada keadaan yang tidak bisa dia ubah. Tetapi, dia juga merasa bersyukur memiliki Ibunya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik baginya.

Ketika bel berbunyi, Arya bangkit dari bangku dan dengan langkah berat berjalan menuju kelasnya. Di hatinya masih tersisa sedikit kesedihan, tetapi dia bertekad untuk tidak membiarkan keterbatasannya menghambat semangatnya untuk belajar dan berkembang.

Saat pulang sekolah, Arya bercermin pada dirinya sendiri. Dia memutuskan untuk tidak lagi meratapi keadaannya, melainkan fokus pada hal-hal yang bisa dia lakukan. Dengan tekad yang baru, Arya berjanji pada dirinya sendiri untuk bekerja lebih keras lagi, agar suatu hari nanti dia bisa memberikan yang terbaik bagi Ibu dan keluarganya.

Pagi ini maliah bergegas memasak menyiapkan makanan meski hanya membuat nasi goreng. Arya kegirangan karena wangi nasi goreng itu sudah tak asing lagi, setelah menggunakan seragam sekolah ia langsung menuju dapur tempat Ibu Maliah memasak. Arya bertanya pada ibunya.

Saat aroma harum nasi goreng mulai menyelimuti rumah, Arya dengan cepat mengenakan seragam sekolahnya dan menuju ke dapur. Dia melihat Ibunya sibuk mengaduk nasi di atas wajan besar.
Lanjutan Chapter 4
"Apa yang Ibu masak hari ini?" tanya Arya dengan antusias.

Ibu Maliah tersenyum melihat keceriaan Arya. "Hari ini Ibu membuat nasi goreng, Nak. Spesial untuk sarapanmu."

Arya berdesir kegirangan. "Nasi goreng lagi! Terima kasih, Ibu!" serunya sambil melompat-lompat kecil. Maliah membalas senyuman Arya. "Selamat menikmati, Nak. Jangan lupa berdoa sebelum makan."

Arya duduk di meja makan dengan penuh semangat. Ia merasa sangat bahagia karena Ibunya telah menyajikan makanan kesukaannya. Meskipun hanya nasi goreng sederhana, namun bagi Arya, rasanya seperti hidangan istimewa yang penuh cinta dari Ibunya. Dalam kehangatan dapur yang sederhana, mereka menikmati sarapan bersama, penuh dengan tawa dan kebahagiaan.

Ibu memandang jauh kea rah jendela dan hatinya bergumam “ andai Alisa kakakmu juga ada di sini” gumamnya setengah berbisik pada Arya yang fokusnya tertuju pada nasi goreng di hadapannya.

“ya Bu, Kakak pasti suka nasi goreng buatan Ibu”. Jawab Arya sambil duduk siap menyantap nasi goreng itu. Di hadapan piring penuh nasi goreng itu, dia merasa lebih dari sekadar kenyang. Baginya, piring itu adalah bukti cinta sejati seorang ibu.

Setiap butir nasi yang terasa hangat di lidahnya, setiap potongan sayur yang diberikan oleh tangan lembut Ibunya, semuanya mengandung cinta dan kasih sayang yang tak terukur. Bagi Arya, nasi goreng bukan hanya sekadar makanan, melainkan sebuah pengorbanan dan perhatian dari seorang ibu yang tak pernah lelah memberikan yang terbaik baginya.

Dalam setiap suapan, Arya merasakan kehangatan keluarga dan kebersamaan yang telah dibangun oleh Ibunya. Dia merasa bersyukur memiliki ibu yang begitu peduli dan rela berkorban demi kebahagiaannya. Piring nasi goreng itu bukan hanya mengisi perutnya, tetapi juga hatinya dengan cinta sejati seorang ibu. Dengan mata berbinar dan senyum mengembang, Arya menyantap nasi goreng yang disajikan oleh Ibunya dengan lahap. Setiap suapan nasi goreng itu terasa nikmat di lidahnya. Dalam setiap gigitan, Arya merasakan hangatnya kasih sayang yang terpancar dari setiap butir nasi dan potongan sayur di piringnya.

Dengan tiap suapan yang diambilnya, Arya juga merasa semakin dekat dengan Ibunya. Ia merasakan betapa besar pengorbanan dan cinta yang telah Ibunya berikan kepadanya. Melalui makanan yang disajikan di meja makan, mereka tidak hanya berbagi hidangan, tetapi juga kebersamaan dan kasih sayang yang tak tergantikan.

Dalam kehangatan rumah mereka, Arya merasa dikelilingi oleh cinta sejati seorang ibu. Dan dengan setiap suapan nasi goreng yang diambilnya, dia tidak hanya merasakan kenikmatan makanan, tetapi juga kenikmatan akan kasih sayang yang melimpah dari Ibunya.

Saat Maliah melihat Arya menyantap masakannya dengan lahap, senyumnya tak bisa dibendung. Matanya berbinar bahagia melihat putranya menikmati nasi goreng yang dia buat dengan penuh kasih sayang. Dalam hatinya, dia memanjatkan doa kepada Tuhan, bersyukur atas momen kebersamaan ini.

Dengan penuh cinta, Maliah memandang Arya yang tengah menikmati makanannya. Dia merasa bahagia melihat putranya tumbuh dengan baik meskipun dalam keterbatasan. Dan dalam diam, dia berdoa agar Tuhan senantiasa melindungi dan memberkati putranya dengan kebahagiaan dan kesuksesan di masa depan.

Dalam momen sederhana ini, Maliah merasa begitu bersyukur atas segala karunia yang diberikan kepadanya. Senyumnya semakin mengembang saat melihat kebahagiaan di wajah Arya. Baginya, tidak ada yang lebih berharga daripada momen indah bersama putranya.

Setelah selesai menyantap nasi goreng dengan lahap, Arya membereskan piringnya dengan cermat. Setelah itu, dia berdiri dan berjalan mendekati Ibunya, Maliah, yang masih tersenyum bahagia melihatnya.

"Bu, Arya harus berangkat sekolah sekarang," ucap Arya sambil tersenyum.

Maliah mengangguk dengan lembut. "Baik, Nak. Semoga hari ini di sekolah berjalan dengan baik ya. Jaga dirimu dan belajar dengan tekun."

Arya memeluk Ibunya erat-erat. "Terima kasih, Ibu. Aku akan berusaha yang terbaik."

Mereka berdua saling bertatapan dengan penuh kasih sayang. Meskipun terpisah oleh waktu dan jarak, namun kebersamaan dan cinta di antara mereka takkan pernah pudar. Dengan hati yang penuh dengan doa dan harapan, Arya pun melangkah keluar rumah menuju sekolahnya dengan semangat yang membara.

Dalam diam, Maliah bersembunyi di balik senyumnya yang hangat. Dia berusaha untuk tetap kuat demi Arya, tetapi terkadang keadaan membuatnya merasa lelah dan hancur. Dia ingin memberikan yang terbaik bagi Arya, namun terkadang merasa tak berdaya menghadapi keterbatasan ekonomi dan kesulitan hidup.

Setiap hari, Maliah berdoa agar Arya bisa memahami perjuangan yang dia lakukan. Dia berusaha menyembunyikan setiap kesedihannya di balik senyumnya, berharap bahwa suatu hari nanti Arya akan mengerti dan bangga pada ibunya yang selalu berusaha keras untuknya.

Meskipun hatinya terasa rapuh, Maliah tetap berusaha menjadi benteng kekuatan bagi Arya. Dia berjanji untuk tetap bertahan dan memberikan yang terbaik bagi putranya, meskipun terkadang dia harus bersembunyi di balik senyumnya yang rapuh.

Wajah Arya yang polos, dipenuhi dengan keceriaan dan semangat yang membara. Namun, di balik senyumnya yang merekah, tersimpan sebuah kisah yang menggetarkan hati.

Setiap pagi, Arya memulai perjalanan panjangnya ke sekolah dengan langkah-langkah kecil nan bersemangat. Meski jarak yang harus ditempuh cukup jauh, namun hatinya penuh dengan cita-cita yang membara. Namun, satu hal yang selalu menarik perhatian orang-orang di desa adalah sepatu yang dipakainya.

Sepatu itu bukanlah sepatu biasa, melainkan sepatu bekas yang diberikan oleh seseorang dengan hati yang tulus. Meskipun usianya telah lama, sepatu itu tetap menjadi sahabat setia bagi Arya. Setiap goresan dan bekas kecil yang melekat di permukaannya menjadi saksi bisu dari perjalanan hidupnya.

Meski sepatu itu tidak secemerlang sepatu-sepatu teman-temannya di sekolah, namun Arya tidak pernah merasa malu. Baginya, sepatu itu adalah simbol dari kebaikan dan kasih sayang seseorang yang telah melintasi jalan hidupnya. Dengan setiap langkah yang diambilnya, Arya merasa seperti membawa serta semangat dan kehangatan dari orang yang pernah memberikannya.

Di tengah kerumunan murid-murid yang berlarian di halaman sekolah, Arya tetap tegar dengan sepatu bekasnya. Baginya, sepatu itu bukanlah sekadar alas kaki, melainkan sebuah warisan yang bernilai lebih dari emas.

Ia belajar dengan tekun, meraih mimpi-mimpi kecilnya dengan penuh semangat yang membara, seolah-olah sepatu itu sendiri memberinya kekuatan dan keberanian.

Suatu ketika matahari senja melintas di ufuk barat, Arya kembali ke rumah dengan senyuman yang merekah. Sepatu bekas yang pernah diberikan seseorang telah membawa Arya pada petualangan hidup yang tak terduga.

Ia belajar bahwa kebaikan tak pernah lekang oleh waktu, dan kasih sayang akan selalu mengalir di hati setiap orang. Langkah kecil Arya memberi semangat baru kepada Maliah sang Ibu yang kini menatapnya dari kejauhan saat Arya menuju sekolah.

Setiap langkah kecil Arya, seperti dentingan doa yang mengalun indah di hati Maliah, sang Ibu. Dari kejauhan, ia memandang putranya dengan mata penuh cinta dan harapan. Meski terpisah oleh jarak, namun ikatan kasih yang mengalir di antara mereka begitu kuat.

Saat Arya melangkah dengan semangatnya yang membara, Maliah merasakan kehangatan yang mengalir di dalam dadanya. Putranya adalah kebanggaannya, sosok yang membawa sinar kebahagiaan di tengah kesederhanaan hidup mereka. Meski terbatas oleh segala keterbatasan, namun cinta ibu tak pernah terbatas oleh apa pun.

Melihat Arya pergi ke sekolah dengan sepatu bekas yang diberikan seseorang, Maliah tersenyum bangga. Baginya, setiap langkah kecil Arya adalah kemenangan yang membangkitkan semangat baru dalam hatinya. Meski hidup mereka mungkin tidak selalu mudah, namun kehadiran Arya adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Dari kejauhan, Maliah menyaksikan putranya tumbuh menjadi sosok yang tangguh. Meskipun ia tak bisa menemani setiap langkahnya, namun doanya selalu menyertai Arya di setiap perjalanan hidupnya.

Sesampainya di sekolah, Arya mungil menyongsong asanya meraih mimpi menumbuhkan semangat dan tekadnya. Namun dunia anak anak baginya saat itu terasa kejam.

Suatu hari Arya berjalan menuju kantin sekolah, maksud hati ingin membeli makanan pengganjal perutnya yang lapar saat bel istirahat berbunyi. Ia dikejutkan tingkah kakak kelasnya yang sedari jauh menantinya dengan penuh semangat meraih uang sakunya Arya.

Dalam dunia kecilnya yang penuh dengan impian, Arya terkadang merasakan kekejaman yang menyelinap tak terduga. Bel istirahat berbunyi, menggema di lorong-lorong sekolah. Namun, saat itulah, kehidupan Arya berguncang oleh tingkah laku tak terduga dari kakak kelasnya.

Dengan penuh semangat, kakak kelas Arya menantinya dengan uang sakunya yang siap diambil dari genggaman Arya. Kejutan dan kebingungan menyelimuti Arya saat ia melihat kakak kelasnya mengulurkan tangannya dengan penuh keinginan untuk mengambil uang dari sakunya.

Raut wajah Arya memperlihatkan campuran antara kebingungan dan kekecewaan. Baginya, hal ini terasa seperti pukulan telak dari kehidupan yang kejam.Dengan tekad yang bulat, Arya menolak tawaran kakak kelasnya dengan lembut. Ia mengambil langkahnya menuju kantin, tanpa membiarkan kejadian itu menghentikan langkahnya.

Meski kekecewaan masih melingkupinya, namun semangatnya tetap terang benderang, seperti bintang yang bersinar di tengah kegelapan malam.

Bukan Arya jika ia harus menyerah pada keadaan. Kini baru ia menyadari anak kecil yang harus belajar tangguh itu harus pula mendapati ejekan teman temannya yang seolah mencibir kehadiran seorang anak yatim dengan penampilan baju sederhananya.

Arya dalam usianya yang masih belia terkadang ingin bermain lepas seperti teman-temannya tanpa beban. Pernah ia pun merasa putus asa karena beberapa minggu ini Ia mendapatkan ejekan dari teman sekelasnya karena sepatu yang Arya pakai sudah usang bahkan bolong di bagian ujung jempolnya. Ha..haa...haaa sepatu Arya bolong teriak Harun pada teman sekelasnya yang lain sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Masukan Token untuk Membuka setiap Chapter Novel Inspiratif | Maliah . Dapatkan Token