Pesan Angin pada Hujan | Maliah-Novel Inspiratif

Table of Contents
Maliah-Novel Inspiratif

Epilog Chapter 3
Di tengah kisah hidup yang merentang, terdapat benang merah yang mengikat setiap peristiwa kebaikan akan selalu menemukan jalan untuk kembali kepada dirinya sendiri. Seperti sang fajar yang membelai wajah bumi setelah malam gelap melabuhkan tirainya, kebaikan menyapa dunia dengan sinar kehangatan yang memancar dari hati yang tulus. Dalam setiap tindakan kebaikan yang disemai, benih-benih kebaikan pun bersemi dengan indahnya di ladang-ladang kehidupan.
Selepas kepergian Alisa yang kini merantau di Kota, rumah Maliah kini tak lagi hangat oleh senyum dan tawa kedua buah hatinya, Jendela-jendela yang dulunya selalu terbuka lebar, kini terkatup rapat, membiarkan hanya sehelai cahaya senja yang merayap masuk dengan ragu.

Sekuntum bunga melati di halaman depan, yang semula dipenuhi dengan keindahan dan harum semerbak, kini layu dan tak terawat, menyiratkan cerita kepergian sang putri yang meninggalkan jejaknya.

Langkah kaki yang dulu riuh melintasi ruang tamu, kini hanya meninggalkan getaran sepi yang bergema di antara dinding-dinding yang sunyi. Di ruang makan, kursi-kursi yang pernah ramai oleh cerita dan tawa keluarga, kini hanya bersandar pada kekosongan, menantikan kehadiran yang tak kunjung datang.

Di lorong yang gelap, potret-potret masa lalu masih tergantung dengan anggun di dinding, menyimpan kenangan akan kebahagiaan yang pernah mengisi setiap sudut. Namun kini, senyum di wajah para penghuninya terlihat begitu jauh, terkubur dalam lapisan-lapisan waktu yang mengalir begitu cepat.

Namun, meskipun kesepian telah merajai setiap ruangan, tetes-tetes harapan masih berdenyut dalam ruang-ruang yang terlupakan. Dalam setiap serpihan debu yang menari-nari di sinar senja, terdapat cerita-cerita yang masih menunggu untuk diungkapkan kembali. Rumah ini, dengan segala kesendirian dan keheningannya, menanti dengan sabar sang putri untuk kembali, membawa kembali kehidupan dan keceriaan yang pernah menyelimutinya.

Hanya Arya yang menemani tiap langkah Maliah saat ini. Arya bagai obat penenang yang melindungi dirinya dari derap kehampaan jiwa.

Setiap Maliah pergi ke sawah, Arya yang belum menyadari betapa kerasnya dunia ini selalu merengek ingin ikut dengan ibunya bekerja. Meski di ladang ia hanya bermain lumpur atau menerbangkan layang-layang. Sesekali Arya mencari jangkrik sejenis binatang serangga yang biasanya berbunyi di pematang sawah jika malam telah tiba.

Arya pun kerap merengek meminta uang jajan karena teman bermainnya membawa jajanan. Suatu ketika Arya merasa kesal pada ibunya yang tidak lekas memberinya uang jajan sehingga ia merajuk dan tak ingin ikut Ibunya ke ladang.

Ia hanya ingin berdiam diri di rumah saja.

“Bu, Ibu Arya mau jajan” anak usia 6 tahun yang belum lancar mengucapkan huruf “R” itu merajuk pada Maliah. Ucapan anak kecil itu sungguh membuat hati maliah meratap, kesedihannya semakin memuncak ketika ia membuka dompetnya, tak ia temukan selembar uang kertas pun. Bahkan beras yang ia miliki saat ini hanya cukup untuk makan sore nanti tanpa tahu bahwa besok mereka makan apa.

Hati maliah menjerit menjulangkan doa pada Yang Maha Kuasa. Derup kencang alunan doa di hati Maliah hanya inginkan kekuatan dan ketabahan. Ia teguh dengan hatinya akan Syukur yang ia nikmati saat ini tanpa mengeluh.

Maliah hanya tersenyum menatap raut wajah mungil di hadapannya.

“Nak, tunggu di rumah ya! Ibu akan berikhtiar dulu, jika ibu sudah punya uang nanti insyaalloh kita jajan ya”.

Sore itu selepas pulang berladang, Maliah melangkah dengan senyuman di wajahnya dan segera menghampiri Arya yang dari siang tadi sudah menunggunya di rumah.

“Nak, maafkan Ibu ya Nak, Ibu belum dapat uang untuk jajan kamu nak”. Maliah tak pernah menunjukkan wajah kelu kepada Arya, ia selalu tersenyum dan mencoba menahan kepedihannya sendiri saja. Ia tahu Arya adalah semangatnya.

Meski malam telah tiba, Arya yang kecewa mulai merajuk lagi dan memohon kepada ibunya. Pokoknya arya mau beli bakso yang di ujung jalan itu ya Bu, besok!” Ujar Arya Ketus pada Ibunya.

“Baiklah, doakan Ibu ya Nak!” jawab Maliah.

“janji ya Bu!” arya memohon kembali.

“Baiklah, sekarang arya tidur dulu ya !” Maliah menatap Arya sambil mengelus kepala Arya.

Pelukan hangat Maliah membuat Arya kecil tertidur pulas, kini tinggalah Maliah yang dari awal menahan rasa pahit dihatinya.

Malam telah berganti pagi yang cerah, hari ini Maliah telah memiliki janji dengan kerabatnya untuk pergi ke ladang memanen kacang tanah, dengan penuh semangat Ia bersiap untuk pergi, namun Arya menghampiri Ibunya dengan wajah yang sedih.

"Ibu, bisakah Arya mendapatkan sedikit uang jajan untuk sekolah?" pinta Arya dengan lembut.

Maliah menatap Arya dengan pandangan penuh penyesalan. "Maafkan ibu, Nak. Hari ini ibu belum punya uang untuk memberikanmu uang jajan."

Rasanya kekecewaan menghimpit dada Arya. "Tapi, teman-teman Arya selalu punya uang jajan. Mengapa kita tidak bisa seperti mereka, Ibu?"

Maliah memeluk Arya erat. "Kita tidak selalu bisa memiliki apa yang dimiliki orang lain, Nak. Tetapi ibu akan berusaha yang terbaik untukmu. Ibu sedang mencari pekerjaan baru, dan kita akan berusaha agar keadaan menjadi lebih baik."

Meskipun hatinya masih kecewa, Arya merasa hangat dengan pelukan Ibunya. Dia mulai memahami bahwa keadaan keluarganya memang sulit, namun cinta dan perhatian Ibunya tidak pernah kurang. Dengan hati yang lebih lega, Arya memutuskan untuk bersabar dan tetap bersemangat menghadapi hari-harinya di sekolah.
Baca Chapter 3

Maliah tidak dapat menahan kesedihannya, ia bersembunyi dibalik senyumnya kepada Arya. Meskipun Maliah berusaha dengan segala kekuatannya untuk menunjukkan senyumnya kepada Arya, namun sebenarnya di balik senyum itu tersembunyi kesedihan yang dalam. Setiap kali melihat Arya merasa kecewa atau kesulitan, hatinya terasa hancur. Maliah kembali mengingat suaminya.

Ia berdialog dengan dirinya yang kini hanya tertegun diam dibalik tirai kehidupannya mengingat almarhum suaminya.

“Kerinduanku padamu tetap mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Setiap langkahku di dunia ini terasa seperti mencari bayanganmu yang hilang, dan setiap senyumku terbungkus oleh keinginan yang mendalam untuk sekadar merasakan hangat pelukanmu sekali lagi”.

Jam malam Sudah menuntun Maliah terjaga dari mimpinya, tak lupa ia selalu menunaikan sholat tahajud, dalam doa nya ia menyerahkan sepenuhnya atas segala kehendak Tuhan. Ia hanya berserah dan bersimpuh luluh kepada kepastian.

Sejenak ia tersadar telah menangis dengan kesedihan yang berlebihan, kini ia mampu kambali menapaki keberanian menghadapi kenyataan hidupnya dengan berserah diri dan mensyukuri apa pun yang ia miliki. Rasa hatinya tak lagi gelisah. Kini ia lebih bersemangat kembali menyongsong hari esok.

Mentari menunjukan pesonanya pagi ini. Maliah pergi ke ladang tempat ia kerja seperti biasa, Tetangga yang memiliki ladang tersebut memintanya untuk membersihkan rumput liar dan gulma-gulma yang tumbuh tak beraturan.

Namun ketika sore tiba gemuruh petir tak terelakkan, awan kelabu menunjukkan keangkuhannya untuk menumpahkan butiran air yang deras. Maliah belum sempat pulang dan ia hanya mencoba berteduh di gubuk pinggir ladang. Desir angin yang gemuruh, kilatan petir dan awan yang angkuh menumpahkan airnya ke permukaan bumi.

Di balik jendela rumah yang terlalu sederhana, Arya menatap dengan khawatir, mencari keberadaan ibu tercinta, namun ia tak berani pergi ke ladang yang diterpa hujan angin dan petir, detak jantungnya berdebar, cemas menyelimuti pikirannya seperti kabut malam yang tak kunjung sirna.

Dalam rumah yang rapuh, bayangan-bayangan gelap merayap di dinding, menambah kegelisahan Arya yang tak bisa melupakan ibunya di ladang kini diserbu angin dan petir.

Terlunta-lunta di dalam ketakutan, Arya menatap keluar jendela dengan hati yang gemetar, memikirkan nasib ibu yang berani berada di ladang meski angin dan petir mendera, kehadiran ibu adalah satu-satunya penjaga hatinya dari kehampaan yang mengancam. Rumahnya yang rapuh bisa saja roboh seketika jika angin menerpanya.

Dalam kekhawatiran yang sama Bu Maliah menghawatirkan Arya yang sendirian di rumah setelah pulang sekolah. Di tepian ladang yang luas terbentang, Maliah duduk termenung di bawah gubuk tua itu bersama tetangganya yang sama-sama memanen kacang tanah siang ini, ia menatap langit yang kelam. Tetesan air hujan yang gemercik menghiasi tanah kering, Pikirannya terhanyut oleh kekhawatiran yang tak kunjung reda. bayangan Arya yang sendirian merasuki pikiran Maliah, membuat hatinya gelisah.

Maliah teringat pada janji yang ia buat kepada Arya, bahwa ia akan memberinya bekal uang jajan sekolahnya besok, Sambil menatap langit yang masih bergemuruh Maliah mengambil keputusan. Ia merasa tidak tega meninggalkan Arya sendirian di rumah, terutama setelah hujan deras seperti ini. Maliah bangkit dari tempat duduknya dan segera beranjak pulang.

Sesampainya di rumah, Maliah mendapati Arya terduduk di ruang tamu dengan wajah cemas. Mendengar langkah kakinya, Arya segera berbalik dan wajahnya terlihat lega melihat ibunya pulang. Arya berlari menuju pelukan ibunya yang basah kuyup

"Maafkan ibu, Nak," ucap Maliah sambil mengusap lembut rambut Arya. "Aku tidak boleh meninggalkanmu sendirian di rumah, terutama saat cuaca seperti ini." Ucap ibu lembut.

Arya mengangguk mengerti sambil tersenyum semu yang menyiratkan penyesalan dalam dirinya selama ini Arya selalu merajuk merengek meminta uang jajan lebih dari ibunya. "Ibu maafkan Arya." Kalimat itu tak mampu ia ucapkan, hanya mampu ia pendam dalam sesak di dada anak usia Sembilan tahun, pada ibunya yang kini melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang basah kuyup.

Maliah tersenyum lega, merasa lega bahwa Arya baik-baik saja. Cinta kepada putranya lebih besar dari sekedar menembus hujan badai. Setelah Bu Maliah selesai mandi, mereka berdua pun duduk bersama di ruang tamu, menikmati the hangat yang dibuatkan Arya untuk ibunya. Sambil menatap langit yang masih kelabu dan gerimis yang menangis, kebersamaan di dalam rumah mereka terlihat sederhana.

Suara adzan Maghrib telah berkumandang dari surau dekat ujung jalan itu, Arya yang biasa bergegas pergi ke surau bersama temannya, kini mengurungkan niatnya. Ia hanya ingin menemani ibu dan shalat bersamanya. Setelah shalat mereka bertadarus Al Quran bersama. Bu Maliah menuntun Arya yang belum lancar membaca Al quran.

Dari senja hingga malam, hujan tak kenal lelah memeluk bumi dengan eratnya. Maliah memandang keluar melalui jendela yang berkabut oleh hujan, memandangi tiang-tiang rumahnya yang rentan. Setiap gemuruh petir yang menggelegar membawa kekhawatiran baru dalam benaknya. Suara derit atap yang terkoyak membelah keheningan malam, menciptakan seraut wajah gelisah pada Maliah.

Dalam kegelapan yang menyelimuti, ia merasakan getaran ketakutan yang menghujam dirinya, takut rumahnya akan rubuh di bawah gemuruh badai yang mengamuk. Dalam sepi, ia berdoa agar rumahnya tetap kokoh, melindungi keluarganya dari amukan alam yang ganas.

Maliah merangkak dari tempat tidur, hatinya gelisah menyelusuri lorong-lorong rumah yang sepi. Langit memuntahkan raungan petir, mencabik keheningan malam dengan gemuruhnya yang menakutkan. Tetesan hujan yang deras menciptakan dentingan sedih di jendela, mencerminkan kekhawatiran Maliah yang tak terbendung. Setiap angin yang menderu membawa suara lirih doa-doa, memohon agar keselamatan keluarganya.

Pagi itu, ketika bulir-bulir fajar mulai merekah, rumah mereka terguncang oleh kemarahan angin yang tak terbendung. tepat pukul 04.30 rumahnya ambruk diterjang angin kencang bagai puting beliung yang menyapunya ganas. Angin itu mengoyak raga-raga kayu yang sudah rapuh, atap dan genting yang bolong dan dinding rumah yang menjadi pagar kehidupan mereka. Arya dan Maliah, dalam kepanikan yang tak tertahankan, memenuhi udara dengan teriakan histeris yang merobek dahi malam.

“Arya, ayo lari Nak!” teriak Ibu Maliah histeris.

“keluar dari rumah!” terdengar tetangga samping rumah menyadari ancaman pada keluarga Bu Maliah.

“ayo Nak, Keluar!



Di antara jeritan, mereka melantunkan asma Allah dan istighfar, memohon perlindungan dan ampunan di bawah perlindungan-Nya yang tak terbatas. Dalam kegelapan dan kehancuran, dengan langkah gemetar, mereka berlari keluar dari reruntuhan rumah, mencari perlindungan di dalam pelukan alam yang luas.

Ambruknya rumah Maliah menyita perhatian para tetangga yang sangat peduli pada mereka, diantara kerumunan tetangga yang melihat keadaan rumah Maliah yang kini rata dengan tanah terdengar riuh rendah suara yang menenangkan hati Maliah dan Arya yang kini sedang membersihkan puing-puing rumahnya dibantu oleh semua warga yang ada di sana.

Maliah bersyukur masih diberikan keselamatan diri dan putranya, meski ia kini tak memiliki rumah tempat bernaung, tapi mereka memiliki saudara dan tetangga yang memiliki hati yang luas yang selalu membantu kesulitan mereka. Bahkan terdengar isak tangis sebagian kerabat yang melihat keadaannya saat ini. Dari kejadian ini Arya yang polos belajar tentang kesempatan hidup yang paling berarti adalah melihat ibunya masih berada di sampingnya saat ini. Keadaan dirinya saat ini, memaksanya untuk berfikir dewasa bahkan di usianya yang baru menginjak Sembilan tahun itu.

Mentari pagi ini serasa membuatnya malu akan dirinya yang selalu membebani hati ibunya dengan keinginannya menjadi seperti orang lain. Penyesalan anak ini tersimpan dalam kenangan peristiwa pahitnya semalam saat rumahnya akan roboh ia mendengar desir angin disertai derit genting atap rumah yang mulai berjatuhan.

Dalam ketabahan seorang Maliah, ia bersyukur putranya selamat dan tak kurang satu apa pun, kehadiran satu sama lain menjadi anugerah tak ternilai bagi mereka.

Puing-puing rumah itu kini dibenahi dan mulai ditata oleh rasa semangat dan gotong royong saudara, kerabat dan tetangga yang peduli kepada keluarganya. Tanpa henti Maliah mensyukuri keberadaannya ditengah orang-orang yang mulia ini, penuh rasa tanggung jawab terhadap sesama.

Ketika keluarga Hendra mendengar kabar bahwa rumah Bu Maliah rubuh, ia bergegas menemui bu Maliah dan Arya. Ia menawarkan sejumlah bantuan yang ingin dia berikan, namun Bu Maliah dengan halus menolaknya. Maliah tidak ingin keluarga calon besannya menanggung beban dirinya dan Arya.

Maliah membuka kembali barang-barang yang telah ia kumpulkan dari puing-puing rumahnya. Lalu ia membuka kotak yang berisi perhiasan berupa anting dan gelang yang dulu sempat suaminya belikan, ia memutuskan menjual perhiasannya itu untuk membeli bahan dan alat untuk membangun kembali rumahnya, meski uang itu tak sebanding dengan kebutuhan yang ia perlukan saat ini. Maliah tetap optimis bahwa ia akan bisa membangun kembali rumahnya.

Maliah yang sedang kebingungan tiba-tiba dikejutkan oleh Bu Lani yang tergopoh menuju dirinya.

“ Bu, Bu,,, ini ada surat dari Alisa Bu!” ujar Bu Lani sambil memberikan amplop berisi surat yang berasal dari Alisa. Maliah tersenyum bahagia mendapat surat dari Alisa yang dirindukannya, meski ia tak akan mampu membalas surat itu dan memberi kabar buruk baginya bahwa rumahnya kini telah hancur.

Maliah dengan seksama membaca tiap kata yang dituliskan oleh putrinya itu. Tertera dalam suratnya bahwa Alisa kini sudah bekerja di pabrik tembakau yang ada di Yogya. Isi surat alisa pada Ibu bahwa Ia kini sedang menabung dan segera ingin pulang bertemu Ibu dan Arya.

Lalu diakhir surat Alisa menuliskan, “aku rindu rumah Bu, aku rindu kalian, semoga kalian baik-baik saja di sana.” Tak terasa sayup mata Bu Maliah dengan wajahnya yang sendu meneteskan air matanya.

Tatapannya kini tertuju pada puing-puing itu lagi, rumah tempat mereka bercanda bersama, riang tawa itu kini hilang. Bu Lani yang melihatnya saat itu mencoba menenangkan Maliah, dan menepuk pundak wanita paruh baya itu dan mengatakan. “ sabar ya Bu, semua ini cobaan yang harus kita lalui!” ujar Bu Lani yang seolah tahu isi hati Maliah saat ini.

Ucapan Bu Lani menenangkan hatinya yang gelisah dan menenangkan dirinya kembali. Saat ini ia melipat secarik kertas itudan memasukannya dalam amplop. Ia menyimpan surat itu dengan hati hati.

Arya yang menatapnya dari jauh dan memperhatikan Ibunya yang menangis kini menghampirinya dan mengajak Maliah untuk makan siang dulu yang sudah di siapkan di dapur tetangganya. Bu Lani pun ikut menemani mereka makan beserta para tetangga yang sudah dari pagi membantu menata puing-puing rumahnya.

Malam ini, Arya dan Bu Maliah dipersilahkan menginap dan tinggal di aula pondok depan rumah Pa Kiyai Mahfud yang dari dulu selalu peduli kepada keluarga Maliah, bahkan sebelum suaminya meninggal. Almarhum Pa Ahmad dahulu adalah murid dari Kiayai Mahfud yang biasanya mengabdi di pondok untuk sekedar membantu membersihkan masjid dan aula yang kini mereka tempati.

Pa Ahmad yang dikenal orang sangat baik, membuat orang disekitarnya pun peduli akan kesulitan keluarganya bahkan setelah ia tiada. Dahulu Pak Ahmad selalu membantu para tetangganya jika ada yang membangun rumah.

Pak Haris ketua RT yang juga ikut membantu menata puing-puing rumah Bu Maliah mencoba mengarahkan bapak-bapak untuk membagi tugas masing-masing, di tengah kesibukan para tetangga itu ada tiga orang yang menghampiri Maliah dan bertanya,

“Bu, saya turut prihatin atas musibah ini, saya hanya mau menyampaikan, bahwa Pak ahmad dulu pernah menitipkan 3000 genting saat saya membangun rumah.” Sambil menjelaskan dengan seksama pak Haris pun ikut menambahkan bahwa suami Maliah pernah pula menitipkan batu bata saat pak Haris merehab dapur di rumahnya.

“ya Bu, seandainya ibu mau membangun kembali rumah ini, Pak Ahmad dulu pernah menitipkan batu bata, katanya ia ingin menabung uang untuk membangun rumah namun ia merasa lebih baik menyimpan berupa barang saja, dan saat itu saya sedang membutuhkan batu bata.”

Maliah sekejap mengingat kembali saat sebelum pemakaman suaminya satu tahun lalu. Ketika pertanyaan hutang piutang suaminya, tak ada yang merasa dihutangi oleh suaminya, namun ada beberapa orang justru yang pernah dititipi barang-barang seperti halnya yang diungkapkan Pak Haris tadi.

“Pak, terima kasih. Sekali lagi amalanmu dibayar lunas untuk keluargamu.” Gumam Maliah dalam hati.

Lalu Ia menganggukan kepala pada Pa Haris dan beberapa orang itu yang mengaku pernah dititipi bahan-bahan bangunan oleh suaminya.

Pak Haris menyela musyawarah itu dan berkata, Baiklah saat ini dengan keadaan yang mendesak, mohon bagi yang dulu pernah dititipi bahan banguna oleh Pak Ahmad, mohon dengan keridhoannya dapat mengembalikan dalam waktu dekat ini, untuk membangun kembali rumah beliau.” Kesepakatan itu disambut baik oleh semua warga yang hadir saat itu.

Secercah harapan itu muncul dari balik masa lalu. Senyum riang dari Arya yang mendengar itu terlihat jelas, Ibunya tersenyum dan berusaha menjelaskan dirinya dalam ucapan terima kasih pada semua orang yang peduli terhadap keluarganya.

Perlu dua bulan rumah Maliah yang sederhana itu dibangun kembali, dengan bantuan dari Alisa yang mengirimkan uang untuk membantu ibunya.

Setahun sudah Alisa tak bertemu Ibu dan Adiknya, pada Idul fitri tahun ke dua setelah ayahnya meninggal, Alisa pulang dengan senyum diwajahnya, Ia tak lagi menyimpan kesedihan di hatinya. Hingga Ia pun kini berani menatap dunia barunya. Hendra melamarnya kembali dan Alisa pun menikah disaksikan keharuan keluarganya tahun ini. Setelah pernikahan berlangsung, Alisa langsung diboyong keluarga Hendra untuk tinggal bersama mereka. Dengan senyum dan tawa bahagia Alisa menjalani kehidupan sehari-harinya bersama keluarga mertuanya.

Takdir mengalir seperti aliran sungai yang tak pernah putus, membawa balasan atas setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. Sebab, dalam perjalanan hidup yang penuh dengan berliku dan rintangan, kebaikan adalah bintang yang selalu bersinar, menuntun langkah-langkah manusia menuju kebaikan yang lebih tinggi. Sehingga, pada akhirnya, kita menyadari bahwa dalam kebaikan yang kita taburkan, kita juga menuai kebaikan yang tak terduga, seperti bunga-bunga yang mekar di musim semi, membawa harapan dan keindahan bagi jiwa yang lapang.
Masukan Token untuk Membuka setiap Chapter Novel Inspiratif | Maliah . Dapatkan Token