Di balik indahnya alam yang memancarkan kecantikannya tiada tara, ada sungai yang mengalir tenang di antara perbukitan hijau yang menjulang tinggi. Langit biru membentang luas sebagai atap tak terbatas. Keindahan itu, seperti lukisan alam yang mengundang untuk dijelajahi, menyiratkan kedamaian yang tak tergoyahkan.
Dalam gemuruh bahagia yang memenuhi dada, hati sang ayah seperti taman bunga yang mekar di musim semi. Setiap senyumnya merefleksikan sinar mentari pagi yang menyinari wajahnya saat ia menyaksikan anak perempuannya, si bunga mawar yang mulai mekar, akan segera merangkai cinta dalam ikatan suci pernikahan.
Dalam sorot matanya yang penuh haru, terukir pengertian dan kehangatan, siap menyambut langkah baru yang bakal dijalani oleh putri kesayangannya.
Dengan semangat yang membara, sang ayah memulai perjalanan persiapan untuk merangkai impian terindah putrinya. Di setiap langkahnya, ia memikirkan dengan teliti segala detail, dari hiasan meja hingga lagu yang akan mengalun memenuhi ruangan. Meski hatinya berdebar-debar menghadapi perubahan besar yang akan terjadi, namun cinta dan kebahagiaannya untuk puteri tercinta menjadi pendorongnya untuk melangkah maju, memastikan bahwa setiap momen di hari istimewa itu akan menjadi kenangan yang abadi dan berharga bagi mereka.
Meski tanpa harta melimpah, namun semangatnya memenuhi setiap sudut ruangan yang menjadi saksi bisu dari persiapan yang dilakukannya. Dengan tekad yang bulat, ia menyusun rencana dengan penuh cermat, mencari solusi kreatif untuk setiap hambatan yang muncul di sepanjang jalan.
Baginya, kebahagiaan puterinya adalah harta yang tiada ternilai, dan dia akan berjuang dengan segenap jiwa dan raganya untuk membuat momen istimewa itu menjadi tak terlupakan, meski dalam keterbatasan yang dimilikinya.
Pak Ahmad yang dikenal gigih dan giat bekerja, siang itu akan mengambil kelapa tua untuk ia jadikan bahan-bahan membuat kue-kue persiapan pernikahan Alisa nantinya. Pernikahan Alisa merupakan penantian panjang bagi seorang ayah, melihat putinya bahagia dengan pasangan hidupnya adalah harapan dan doa seorang ayah, pernikahan Alisa sangat penting baginya. Peran sang ayah saat ini ingin ia teguhkan dalam niatnya sebagai doa bagi puterinya, ia ingin mempersiapkan segala keperluan Alisa.
Meski belum pernah menaiki pohon kelapa yang tinggi namun dengan tekadnya yang kuat demi sang putri, ia mulai memanjat pohon kelapa yang menjulang tinggi, telapak tangannya yang lebar mulai memegang pohon itu. Tatapan tajamnya menuju atas puncak pohon. Kakinya mulai menginjak sela pohon kini mulai gemetar namun demi niatnya yang kuat ia memantapkan pegangan eratnya dan merangkak naik ke atas puncak pohon yang menjulang itu, sesampainya di atas ia sangat bahagia dan merasa lega, kini kelapa itu tepat dihadapannya. Pak ahmad mulai mencari kelapa-kelapa tua dengan pandangannya yang memutar.
Pandangannya terhenti di balik pelepah daun yang agak kering, mungkin pelepah itu sudah terlalu tua untuk ia injak. Lalu ia mengubah pandangannya ke arah yang berlawanan, kemudian ia lihat kelapa yang cukup tua bergantung 6 buah dengan sempurna. Ia mulai mengarahkan tangannya untuk memetiknya.
Dari kejauhan Alisa terheran dengan tingkah ayahnya yang tak biasanya memanjat pohon. Alisa bergumam dalam doa, sambil berteriak pada ayahnya yang kini sudah jauh berada di puncak pohon.
“Bapak, hati-hati Pak!” seru Alisa pada ayahnya.
Lalu Alisa pun pergi dari ladang tempat ayahnya mengambil kelapa menuju rumahnya yang tak jauh dari ladang.
Di sisi lain tibalah sang matahari senja, Maliah sosok ibu paruh baya tengah membungkuk di tepi sawah, wajahnya dipenuhi oleh garis-garis yang menandakan perjuangan dan ketabahan. Matahari memantulkan cahaya keemasan pada rambutnya yang mulai memutih, namun matanya yang tajam masih memancarkan keberanian yang tak tergoyahkan.
Bibirnya tersenyum lembut, menyiratkan kedalaman pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Setiap goyangan langkahnya mencerminkan keteguhan hati dan kegigihan dalam mengarungi badai kehidupan.
Maliah sedang memanen padi milik kerabatnya yang ia tanam sendiri dengan penuh kesabaran. Meski keringatnya kini hampir membasahai seluruh tubuhnya ia masih saja tidak beranjak dari tanah pijakannya.
Tiba-tiba Alisa memanggil ibu dan adiknya dari kejuahan, berteriak histeris sambil menangis sejadi-jadinya.
“Ibu…… Bu…… Bapak…. Bu……Bapak….”. Lidah Alisa terasa kelu tak sanggup berkata-kata.
“Ada apa Nak?” Maliah yang sejak awal terheran dengan tingkah putrinya mencoba menenangkan Alisa yang menangis semakin menjadi-jadi.
“ Bapak…. Bu.. Bu, ja…ja…. Jatuh dari pohon kelapa”. Sambil terbata-bata Alisa mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi.
Di antara hamparan hijau sawah yang tenang, Maliah merasa getir dalam diamnya. Kabar tragis itu memotong kesunyian, membangkitkan kegelisahan yang tak terbendung di dalam dadanya.
Matanya yang pernah tenang kini dipenuhi oleh kecemasan yang tak terkendali, dan langkah-langkahnya yang lembut seakan terhenti di tempat, terpaku oleh berita yang mengguncang kedamaian keluarganya. Sementara itu, di kejauhan, anak laki-lakinya bernama Arya masih terus bermain, tak menyadari betapa dunia mereka telah berubah dalam sekejap.
Di dalam labirin pikirannya yang kacau, terdengar suara-suara gemuruh yang menandakan kedatangan petaka yang mengancam keselamatan suaminya.
Hatinya berdegup kencang seperti guntur yang menggelapkan langit, meramalkan kecelakaan yang akan merenggut kehadiran sang kekasih. Matanya terus mencari tanda-tanda di sekitarnya, namun hampa akan jawaban yang membawa ketenangan.
Setiap detik terasa seperti beban yang tak tertahankan, saat kekhawatiran merangkulnya erat, dan doa-doa terucap tanpa henti, memohon perlindungan bagi sang kekasih di tengah badai yang mendekat.
Dalam langkah terburu-buru, mereka pulang seperti angin yang menerpa, namun dihati sang ibu, kekhawatiran menggelayut erat. Saat mereka tiba di tempat kejadian, pemandangan yang menyayat hati menyambut mereka.
Sang ayah telah dikerumuni oleh banyak orang, Arya terisak penuh ketakutan di antara kerumunan yang gelap. Dengan langkah yang gemetar, sang ibu memeluk putranya, mencoba menenangkan hatinya yang hancur berantakan, sementara bayangan kecelakaan yang mengerikan masih bergelayut di udara, menutupi mereka dengan bayang-bayang yang menakutkan
Dalam kegelapan malam yang menyelimuti, sosok sang ayah terbaring lemah di atas blangkar Rumah Sakit, berjuang untuk tetap sadar di tengah keterpurukan yang melanda. Wajahnya yang pucat dipenuhi dengan jejak-jejak darah yang mengering, menciptakan kontras yang menusuk hati dengan putih kulitnya. Kedua matanya yang terpejam berusaha untuk mempertahankan kesadarannya, namun ekspresinya terpancar rasa sakit yang tak terperi, menyusuri setiap serat tubuhnya yang penuh luka.
Kaki yang patah tergantung lemah di samping blangkar itu, tak mampu lagi menopang beban hidupnya yang berat, sementara hidungnya yang mengeluarkan darah menggambarkan penderitaan yang tak terduga yang dialaminya.
Dalam keheningan yang menyiksanya,Pak Ahmad berjuang untuk tetap sadar, meskipun tubuhnya rapuh dan pikirannya terombang-ambing oleh gelombang rasa sakit yang menghantamnya.
Tujuh hari berlalu setelah kejadian nahas itu. Tubuh lelaki tua itu Nampak lemah tak mampu menahan kesakitan dalam dirinya. Di balik jendela rumah sakit, rona mentari seakan sayup tersenyum semu. Maliah duduk disamping suaminya, menggenggam erat tangan kokoh suami tercintanya yang kini terpasang selang dan alat-alat medis dengan wajah yang pucat pasi.
“ Bu, Alisa dan Arya mana?” tanya Pa Ahmad lirih setengah berbisik.
“Arya sedang ikut Alisa pulang dulu Pak”. Sahut Maliah pada suaminya.
“Bu, jika Arya nakal jangan pernah engkau memukul atau mengutuknya ya Bu!”. Pa Ahmad seolah ingin memberi pesan pada Maliah agar menjaga anak-anaknya.
“ya Pak, Ibu akan selalu menjaga anak-anak, kita akan selalu membimbing mereka bersama Pak, Bapak semoga lekas sembuh ya Pak, Bapak harus kuat! Ucap Maliah dengan segala kecemasannya, tanpa sadar bulir bening di pipinya pun meleleh.
“Baiklah Bu, Bapak senang mendengarnya, semoga mereka jadi anak yang soleh dan solehah” senyum pucat dari Pak Ahmad tersungging semu
Bu Maliah menganggukkan kepala menatap wajah suaminya penuh harapan dan doa untuknya.
“Aamiin, aamiin ya Rabbalalamin”. Jawab Maliah pada suaminya sambil menengadahkan tangannya seraya berdoa pada Yang Maha Kuasa.
“Bapak ngantuk Bu, ibu istirahatlah dulu sudah berhari-hari kau tak tidur selalu menjagaku”. Ujar Pa Ahmad sambil tersenyum kepada Maliah yang kini terlihat menguap karena kelelahan sepanjang malam selalu terjaga menemaninya di bilik jendela itu.
senyumnya kali ini menjadi saksi bahwa Ia tak lagi menahan beban di dadanya, dalam heningnya pagi dengan segenap kesiapan diri Ia menutup mata untuk selamanya.
Teriakan histeris Maliah memenuhi lorong rumah sakit, hingga Arya dan alisa sang kakak tiba disaat semuanya terlambat, Ayahnya telah pergi tanpa mereka sempat menyapanya. Arya hanya paham dalam dadanya terasa sakit menghimpit begitu sesak, Dia menangis dipelukan ibunya yang kini lemas tak berdaya dengan tatapan kosong dan hancur.
Alisa tak sanggup menatap jasad ayahnya, bahkan ia hampir saja tersungkur lemas dihadapan ibunya, rasa penyesalan yang ia rasakan saat ini lebih mendominasi dan menyudutkannya dalam keputusasaan. Alisa merasa kejadian yang menimpa keluarganya berawal dari dirinya.
Alisa menyesali peristiwa ini, “andai saja bapak tidak naik pohon kelapa itu”. Gumam Alisa dalam lautan penyesalannya yang seolah kini menghantuinya.
“Bapak, bangun Pak ini Alisa”. Tangis histeris itu nampak menjadi melodi menyakitkan yang memenuhi lorong rumah sakit.
Kini siang telah berganti malam yang sunyi, kesedihan menyelinap seperti bayangan gelap yang tak terhindarkan. Hati Maliah terasa seperti samudra yang dalam, dipenuhi oleh gelombang-gelombang kesedihan yang menghantam tanpa henti, meninggalkan jejak-jejak kepedihan yang tak terhapus.
Sunyinya malam menambah kesedihan yang mengalir dalam gelombang tak terhentikan, membanjiri relung hati Maliah dengan kepedihan yang tak terucapkan. Setiap detik terasa seperti abadi, saat ia meratapi kepergian suaminya yang telah menjadi cahaya di ujung gelap.
Dalam keheningan yang menyiksanya, ia mencoba menggapai bayang-bayang di balik Cahaya temaram yang terlalu cepat memudar, sementara hatinya remuk di tengah lautan kesedihan yang tak berujung. Pilu itu menari seperti kabut tebal yang merayap melintasi relung hati. Setiap hembusan angin malam menyentuh wajahnya yang pucat, membawa kenangan manis tentang suaminya yang kini hanya tinggal dalam bayangan.
Setelah selesai pemakaman suaminya, kini maliah tengah menyiapkan acara tahlil dan doa bersama di rumahnya, seperti pesan gerimis pada angin yang ingin menghantarkan pesan pada alam. Maliah kembali menatap barang-barang dan pakaian yang biasa suaminya pakai. Sejenak Ia lupa takkan ada lagi sosok itu di depannya. Rumah yang awalnya akan menjadi pelaminan putrinya berubah menjadi rumah dengan penuh kesakitan.
Keheningan seolah menyiksanya, kesedihan merayap memenuhi setiap serpihan jiwanya yang remuk. Tiap nafasnya terasa seperti beban yang terlalu berat untuk dipikul, seiring ia meratapi kepergian suaminya yang telah menjadi bagian tak tergantikan dari dirinya.
Hari-hari dengan sangat lambat berlalu pahitnya kenyataan menampar wajahnya setiap kali ia membuka mata. menghadapi dunia yang tiba-tiba terasa kosong tanpa kehangatan sosok yang dicintainya. Maliah terdampar di tepi jurang keputusasaan, meraba-raba dalam gelapnya kehilangan yang tak terperi.
Empat minggu telah berlalu hingga bulan pun telah berganti,Ramadhan telah tiba dipelupuk mata. Meratapi relung hatinya yang masih tersakiti, Maliah mencoba bangkit meski tertatih.Ia menguatkan diri untuk menjalani kehidupannya kembali. Maliah perempuan kuat yang kini harus berjuang sendiri menghidupi keluarga kecilnya mencoba kembali menata hati dan kekuatannya.
Maliah memeluk Alisa dan Arya bersamaan, malam itu mereka lewati malam dengan Cahaya temaram dan alunan kesedihan yang jelas terlintas dibenaknya. Dengan tatapan tanpa suara pada kedua anaknya yang kini tertidur kelelahan setelah semua yang mereka lalui hari ini, Maliah melantunkan ayat suci Al Quran sebagai alat dialognya kepada Sang Maha pemberi takdir.
Dibalik doa yang terucap darinya ia menyelipkan bisikan harapan bagi kedua anaknya untuk tetap tabah dalam melewati alur ini.
Epilog chapter 1
"Dalam gelapnya malam yang menyelimuti hatimu, biarkan aku hadir sebagai
pelita yang menyinari langkahmu. Kita berjalan bersama dalam lorong-lorong
kesedihan, namun jangan biarkan rasa kehilangan menguasai langkahmu.
Ingatlah, di balik awan kelabu, matahari masih setia bersinar. Begitu juga
dengan kenangan akan ayahmu, yang tetap bersinar dalam relung hatimu.
Biarkan suaranya terdengar dalam angin, menyentuhmu dengan lembut,
mengingatkanmu akan kehangatan kasih yang selalu ada.
Kita mungkin saat ini sedang terluka, namun luka itu adalah tanda akan
keberanian kita untuk tetap berdiri tegak. Meski hanya Cahaya temaram dalam
kegelapan, kita menemukan kekuatan baru yang tumbuh dari keteguhan hati dan
keberanian untuk melangkah maju.
Ayahmu mungkin telah pergi, tetapi warisannya akan terus hidup dalam setiap
detak jantungmu, mendorongmu untuk mengejar impian dan meraih kebahagiaan.
Kita adalah cerita yang terus berlanjut, di mana setiap babaknya mengandung
pesan-pesan kebijaksanaan dan keberanian.
Jadikan setiap langkahmu sebagai syair yang menggugah jiwa, karena dalam
setiap perjuangan kita menemukan keindahan yang tak terduga. Bersama, kita
akan mengubah kegelapan menjadi cahaya, dan melangkah maju dengan penuh
keyakinan.