Anarkis Itu Hadiah Gratis untuk Elit
Table of Contents
.png)
Demo besar di Indonesia bukan barang baru. Dari reformasi, aksi mahasiswa, sampai protes atas berbagai kebijakan pemerintah, rakyat selalu turun ke jalan ketika merasa tidak didengar. Tapi ada satu pola yang terus berulang, ketika aksi damai berubah jadi anarkis, isu utama langsung tenggelam, elit politik justru diuntungkan.
Dari Tuntutan Jadi Kerusuhan
Kita semua tahu, demo biasanya berangkat dari isu serius. Entah soal kenaikan tunjangan DPR, kebijakan kontroversial, atau ketidakadilan sosial yang bikin rakyat muak. Awalnya aspirasi jelas, rakyat ingin keadilan, ingin wakilnya mendengar.Tapi begitu ada mobil dibakar, kantor dirusak, atau polisi dilempari, headline media langsung bergeser. Bukan lagi “Rakyat protes DPR karena kebijakan tidak adil”, tapi berubah jadi “Bentrok, fasilitas umum rusak.”
Publik yang tadinya simpati ikut kesal. Elit politik pun tinggal mengangkat bahu sambil berkata “lihat kan, ini bukan aspirasi rakyat, ini ulah perusuh.” Sementara inti masalah, misalnya soal tunjangan, hilang begitu saja.
Elit Selalu Menunggu Momen Itu
Kita tidak bisa naif. Para elit tahu persis dinamika ini. Mereka tahu betapa mudahnya menggeser narasi begitu ada kerusuhan. Itulah kenapa anarkis sebenarnya hadiah gratis untuk mereka.Dengan provokasi, atau bahkan sekadar menunggu massa terbakar emosi, mereka sudah bisa membalikkan keadaan. Yang awalnya rakyat menekan DPR, bisa bergeser jadi rakyat justru berhadapan dengan aparat. Elit di Senayan tinggal diam, sembunyi di balik kerusuhan, dan keluar dengan wajah “tak bersalah.”
Di sinilah bahayanya. Karena setiap kali aksi berubah jadi anarkis, posisi elit justru makin aman. Kritik yang harusnya diarahkan ke mereka, malah buyar di jalan.
Siapa yang Dirugikan?
Pertama jelas, rakyat sendiri. Aspirasi tidak tersampaikan. Energi yang besar terbuang untuk bentrok yang sebenarnya bisa dihindari.Kedua, aparat di lapangan. Mereka juga rakyat, juga punya keluarga. Tapi karena harus berhadapan langsung dengan massa, mereka jadi sasaran dan akhirnya ikut jadi korban. Padahal problem awalnya bukan di mereka, tapi di kebijakan elit.
Ketiga, demokrasi itu sendiri. Demo yang mestinya menjadi ruang ekspresi rakyat, berubah jadi stempel buruk, dianggap identik dengan kekerasan, kerusuhan, dan perusakan. Elit pun dengan mudah menggunakannya untuk mendeligitimasi protes rakyat ke depan.
Disiplin Massa Itu Strategi Politik
Makanya, menjaga aksi tetap damai bukan sekadar soal ketertiban. Ini soal strategi.Kalau mahasiswa, masyarakat umum, bahkan kelompok oportunis bisa menahan diri, maka elit kehilangan “senjata” untuk memelintir narasi. Bayangkan kalau ribuan massa bisa turun ke jalan, tertib, damai, dengan tuntutan yang jelas. Media akan kesulitan mencari angle lain selain menyorot substansi tuntutan itu sendiri.
Disiplin massa adalah cara rakyat memastikan isu tetap tajam. Bukan kabur oleh headline kerusuhan. Bukan tenggelam dalam framing anarkis.
Dunia Sudah Memberi Contoh
Kita bisa lihat bagaimana di banyak negara, protes damai yang rapi justru lebih memukul pemerintah daripada aksi rusuh. Misalnya di Hong Kong, atau bahkan gerakan civil rights di Amerika. Ketika rakyat bisa menunjukkan kedewasaan politik dengan aksi tanpa anarkis, simpati publik mengalir deras. Elit tidak bisa lagi mengaburkan narasi.Indonesia sebenarnya bisa. Mahasiswa punya pengalaman panjang menjaga moralitas aksi. Masyarakat umum juga bisa ikut dengan damai. Kuncinya ada pada kesadaran, anarkis bukan kemenangan, tapi jebakan.
Jangan Biarkan Elit Menang dengan Mudah
Pada akhirnya, demo adalah panggung politik. Pertanyaannya sederhana, siapa yang menang di panggung itu? Rakyat dengan tuntutannya, atau elit dengan narasi yang mereka putarbalikkan?Kalau aksi berubah jadi anarkis, jawabannya sudah jelas, elitlah yang menang. Isu utama tenggelam, rakyat disalahkan, demokrasi mundur selangkah.
Tapi kalau aksi bisa tertib, damai, penuh disiplin, rakyat punya kesempatan untuk benar-benar menekan elit. Narasi tetap di tangan kita, bukan mereka.
Jadi, ingatlah satu hal, demo anarkis itu hadiah gratis untuk elit. Jangan sampai kita sendiri yang menyerahkannya.