Merdeka! Tapi Sudah Benarkah Kita Merdeka?

Table of Contents
Merdeka, Tapi Sudah Benarkah Kita Merdeka?

Setiap bulan Agustus, jalanan kampung sampai pusat kota, bahkah didepan halaman rumah dipenuhi bendera merah putih. Ada berbagai kreatifitas menarik seperti umbul-umbul, gapura, mural, pos ronda yang dicat ulang, termasuk jalan, sampai lorong dari lampu hias yang bikin suasana tambah meriah. sangat indah saat malam.  Dan tentu saja, pawai dan karnaval. Dari kostum adat hingga mobil hias, dari tarian tradisional sampai aksi teatrikal. Ramai, berwarna, dan penuh tawa.

Namun di balik kemeriahan itu semua, ada pertanyaan yang terkadang muncul muncul,  apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Antara Hiburan dan Sindiran

Kalau kamu sering nonton karnaval/ pawai, pasti pernah melihat yang nyeleneh, mobil hias berbentuk keranda dengan tulisan sindiran untuk koruptor, atau replika tikus raksasa yang melambangkan kerakusan. Lucu? Satir? Kadang bikin geleng-geleng.

Mengapa begitu? Karena bagi sebagian orang, pawai bukan hanya ajang hiburan, tapi juga wadah untuk menyampaikan keresahan. Seni jadi bahasa rakyat: sederhana namun tepat sasaran. Kita mungkin tertawa melihat kreativitasnya, tapi pesannya tetap tak bisa diabaikan.

Sudahkah Kita Merdeka?

Secara formal, tentu saja. Kita merdeka sejak 1945. Bendera berkibar tanpa takut diturunkan, lagu kebangsaan berkumandang lantang. Itu merdeka secara lahiriah.

Tapi kalau bicara lebih dalam, masih ada "penjajahan" lain yang belum selesai;

  • Korupsi yang menggerogoti keadilan dan kesejahteraan.
  • Kemiskinan yang menjerat banyak keluarga.
  • Ketidakadilan hukum yang masih terasa timpang.
  • Ketergantungan ekonomi yang membuat kita rentan.

Jadi, apakah kita sudah merdeka sepenuhnya? Mungkin baru lepas dari penjajah luar, tapi belum tuntas beres-beres di dalam rumah sendiri.

Antara Pesta dan Renungan

Bagi sebagian orang, HUT RI itu pesta rakyat, panjat pinang, makan kerupuk, balap karung, dan pawai. Dan itu sah, bahkan perlu. Hidup butuh tawa dan kebersamaan.

Tapi ada juga ruang untuk renungan. Saat kita tertawa menyaksikan orang tersungkur saat lomba balap karung, diluar sana masih ada orang yang berjuang dengan menjadi pemulung. dan saat melihat meriahnya lomba bakiak, di tempat lain ternyata masih ada orang yang  jatuh bangun memperjuangkan hidup. Saat kita masuk digang-gang, jalan jalan RT, terang oleh lampu hias, disuatu tempat sana, ada rumah yang masih gelap karena belum terjangkau/ teraliri listrik. Kontras-kontras seperti ini mengingatkan perayaan dan kepekaan bisa berjalan beriringan.

Merdeka Itu Perjalanan

Buat saya, kemerdekaan bukan garis finish. Ini sebenarnya  perjalanan panjang, dari merdeka secara politik menuju merdeka secara soaial, ekonomi, dan juga batin. Dari sekadar bebas mengibarkan bendera menjadi bebas dari rasa takut, lapar, dan ketidakadilan.

Merdeka bukan hanya untuk dirayakan, tapi juga untuk terus diperjuangkan.

Mungkin itu sebabnya kritik sosial di pawai tetap muncul. Bukan untuk merusak pesta, melainkan pengingat halus, masih ada PR yang harus kita kerjakan bersama.

Kita dan Merdeka

Jadi, sudah benarkah kita merdeka? Jawaban paling jujur, sudah, tapi belum sepenuhnya. Dan mungkin memang begitu hakikatnya, kemerdekaan adalah proses yang tak pernah selesai. Setiap Agustus, kita diingatkan kembali, lewat bendera yang berkibar lomba-lomba yang menghibur, dan sindiran yang kadang menohok. Semuanya cermin yang memantulkan wajah rakyat, gembira, kritis, dan tetap berharap.